
NEGARA, BALIPOST.com – Cuaca ekstrem yang melanda wilayah Kabupaten Jembrana dalam beberapa waktu terakhir berdampak pada sektor pertanian khususnya tanaman padi. Hujan disertai angin kencang menyebabkan tanaman padi di sejumlah sawah mengalami rebah atau roboh, sehingga dikhawatirkan menurunkan produktivitas panen.
Kepala Bidang Pertanian pada Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana, I Komang Ngurah Arya Kusuma, mengatakan sejauh ini luas lahan padi yang mengalami rebah tercatat sekitar 13,5 hektare. Kejadian tersebut tersebar di wilayah Kecamatan Negara dan Kecamatan Jembrana.
“Data sementara, padi rebah seluas 13,5 hektare di Kecamatan Negara dan Jembrana. Namun kondisi tersebut tidak sampai menyebabkan puso,” ujar Arya Kusuma, Selasa (10/3).
Ia menjelaskan, tanaman padi yang masih dalam fase muda berpotensi mengalami penurunan produktivitas. Hal itu bergantung pada kemampuan tanaman untuk pulih setelah terdampak cuaca ekstrem. “Untuk padi yang masih muda kemungkinan akan mengalami penurunan produktivitas, tergantung perkembangan proses recovery tanaman,” katanya.
Diharapkan dalam waktu sebulan ke depan tidak terjadi hujan dan angin kencang, karena menurutnya banyak subak yang sudah mendekati masa panen di bulan ini. Harga jual gabah masih di atas harga terendah. Namun, kondisi padi yang rebah memengaruhi harga gabah di tingkat petani. Penurunan kualitas hasil panen akibat tanaman roboh membuat harga jual cenderung melemah.
Petani di sejumlah wilayah di Jembrana mengaku khawatir jika kondisi cuaca ekstrem terus berlangsung, karena dapat memperluas area sawah yang terdampak. Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana pun terus melakukan pemantauan di lapangan untuk memastikan perkembangan kondisi tanaman padi. Pemerintah daerah juga mengimbau petani untuk melakukan penanganan dini, seperti memperbaiki saluran air dan melakukan perawatan tanaman guna membantu proses pemulihan padi yang terdampak cuaca ekstrem.
Salah seorang petani, I Komang Wiasa mengatakan kondisi cuaca ekstrem ini berdampak pada kondisi panen padi. Tingkat kadar air tinggi terlebih padi yang mengalami rebah. Sehingga di beberapa penebas atau pengepul biasanya menerapkan nilai prosentase repaksi. Ada pemotongan dari harga awal dengan prosentase beragam. Tetapi meskipun begitu pihaknya berharap kondisi ini jangan sampai merugikan petani terlebih ketika prosentase potongan repaksi ini sangat tinggi. (Surya Dharma/balipost)










