
NEGARA, BALIPOST.com – Potensi dampak cuaca ekstrem di Kabupaten Jembrana diperkirakan masih berlanjut hingga Maret mendatang. Hujan dengan intensitas tinggi yang disertai angin kencang menjadi ancaman yang perlu diantisipasi masyarakat.
Kepala Pelaksana BPBD Jembrana, I Putu Agus Artana Putra, Jumat (27/2), mengatakan berdasarkan pemantauan dan laporan Pusdalops PB, dalam sepekan terakhir telah terjadi sejumlah kejadian yang dipicu kondisi cuaca ekstrem.
“Dampak yang paling sering terjadi adalah pohon tumbang akibat angin kencang. Selain itu, ada juga bangunan yang mengalami kerusakan,” ujarnya.
Salah satu kejadian tercatat pada Rabu (25/2) sekitar pukul 15.30 Wita, di Banjar Banyubiru, Desa Banyubiru, Kecamatan Negara. Angin puting beliung menyebabkan bangunan tempat suci (merajan dadia) roboh dan mengalami kerusakan cukup parah.
Berdasarkan hasil kaji cepat tim BPBD, kerusakan meliputi Bale Piasan berukuran 2,5 meter x 2,5 meter, Bale Gong berukuran 3 meter x 2,5 meter, serta tembok pagar sepanjang 3 meter dengan tinggi 1 meter. Kerugian materiil akibat kejadian tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp28 juta.
Tidak ada korban luka maupun korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Penanganan awal dilakukan melalui gotong royong keluarga dadia bersama aparat desa setempat.
Artana Putra menambahkan, jajaran BPBD melalui Kabid Kedaruratan dan Logistik serta Kabid Rehabilitasi dan Rekonstruksi telah turun melakukan kaji cepat sehari setelah kejadian.
Pihaknya mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat terjadi hujan lebat disertai angin kencang. Warga diminta memangkas dahan pohon yang rawan patah serta memastikan kondisi bangunan dalam keadaan aman guna meminimalkan risiko saat cuaca ekstrem terjadi.
Selain di permukiman, BPBD juga mengimbau kawasan di pesisir dan laut terutama aktivitas nelayan untuk mewaspadai cuaca yang cepat berubah. Potensi hujan deras berdampak pada visibilitas di tengah laut. Para nelayan dan pelayaran diharapkan untuk selalu update situasi cuaca di perairan untuk antisipasi dampak cuaca ekstrem. (Surya Dharma/balipost)










