Prof Tjandra Yoga Aditama. (BP/Antara)

JAKARTA, BALIPOST.com – Pelayanan telemedisin merupakan bagian penting dari isolasi mandiri di tengah tren peningkatan kasus Omicron di Indonesia. Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI Prof Tjandra Yoga Aditama mengemukakan hal tersebut. “Telemedisin jadi hal yang amat penting, apalagi diperkirakan kasus akibat Omicron masih akan terus meningkat,” kata Tjandra Yoga Aditama melalui pernyataan tertulis yang diterima di Jakarta, dikutip dari kantor berita Antara, Selasa (1/2).

Pakar Ilmu Kesehatan dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) itu menyampaikan tiga usulan sebagai bahan pertimbangan untuk meningkatkan pelayanan telemedisin bagi pasien isolasi mandiri COVID-19.

Ia mengatakan sebaiknya konsultasi dengan dokter telemedisin tidak hanya di hari pertama saja, tetapi setiap hari selama masa isolasi mandiri, untuk memonitor sejumlah kondisi kesehatan.

Baca juga:  Resmi Diluncurkan, Sail Sabang 2017 Jadi Event Sail Terbesar di Tanah Air

Kondisi kesehatan yang dimaksud, di antaranya perkembangan keluhan pasien dari hari ke hari, mendeteksi kemungkinan keluhan dan efek samping dari konsumsi obat yang diberikan serta untuk penyesuaian dosis dan atau memberi obat tambahan kalau diperlukan selama menjalani isolasi mandiri. “Kalau sekiranya memang tidak bisa diberikan pelayanan telemedisin gratis tiap hari, akan sangat baik kalau pasien dapat konsultasi harian lewat telepon kepada dokter atau tenaga kesehatan di Puskesmas terdekat,” katanya.

Konsultasi kepada dokter atau nakes yang kebetulan kerabat atau bagian dari keluarga pasien juga direkomendasikan, sebab konsultasi atau pengawasan harian adalah hal penting, walaupun hanya dengan telepon maupun pesan singkat, kata Tjandra. “Setidaknya pada konsultasi pertama melibatkan keluarga yang sehari-hari menangani pasien. Kalau teleponnya dengan panggilan WhatsApp kan bisa dengan mudah menambah partisipan anggota keluarga,” ujarnya.

Baca juga:  Tekan Lonjakan Kasus, Kemenkes Dukung Faskes di Kudus dan Bangkalan

Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara itu mengatakan keluarga pasien juga perlu menjelaskan apa yang harus mereka lakukan dalam merawat pasien di rumah, sebab seringkali bukan masalah mudah. “Kalau pelayanan telemedisin belum bisa melibatkan keluarga yang merawat di rumah, baik kalau anggota keluarga mencoba komunikasi dengan dokter atau nakes lain yang mungkin ada kenalan. Saya misalnya, sering kali dihubungi teman untuk bertanya kalau ada anggota keluarganya yang isolasi mandiri,” ujarnya.

Baca juga:  Batasi Mobilitas, Luhut Imbau Perkantoran Kembali Terapkan WFH

Selain pemberian obat, kata Tjandra, harus dipikirkan juga bagaimana ketersediaan alat kesehatan untuk memantau keadaan kesehatan pasien isolasi mandiri.

Tjandra mengatakan minimal perlu tersedia tiga alat pendeteksi, seperti thermometer yang bisa dibeli sendiri, tensimeter dan oximetri. “Selalu disebutkan bahwa penurunan saturasi oksigen yang diukur dengan oximetri merupakan parameter penting untuk pertimbangan pasiennya harus masuk ruang perawatan rumah sakit,” katanya.

Ia menambahkan sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan seperti Puskesmas atau petugas Satgas COVID-19 tingkat kabupaten/kota juga memiliki perangkat oximeter yang memungkinkan untuk dipinjam oleh pasien isolasi mandiri. (Kmb/Balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *