Dewa Gde Satrya. (BP/Istimewa)

Oleh Dewa Gde Satrya

Pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan di Sanur, Bali, menumbuhkan harapan baru di pengujung tahun 2021 akan kebangkitan sektor pariwisata di Tanah Air, khususnya berkolaborasi dengan medis. Bali International Hospital, bekerja sama dengan Mayo Clinic, didirikan menandai langkah awal menumbuhkan destinasi wisata medis di Bali, Indonesia.

Presiden Jokowi menyatakan, setiap tahun ada 2 juta WNI berobat ke luar negeri dengan potensi kehilangan sebesar Rp 97 triliun. Diharapkan, kehadiran KEK Kesehatan di Sanur dapat mencegah warga bangsa yang ingin berobat ke luar negeri dan mengarahkan pilihan berobat ke Bali.

Data yang pernah dilansir Association of Private Hospitals in Malaysia mencatat sebanyak 238.920 warga Indonesia berobat di Malaysia pada tahun 2009, yang merupakan jumlah terbanyak pasien internasional. Warga Indonesia yang berobat ke Malaysia tersebar ke berbagai kawasan, warga Sumatera mendominasi Penang, penduduk Kalimantan terfokus di Serawak, dan Kuala Lumpur dibanjiri pasien dari Jawa.

Kejelian Malaysia mengakuisisi pasar wisatawan di Indonesia menunjukkan keterbukaan persaingan pasar global di ranah pariwisata. Selain Singapura,
Malaysia dan India merupakan destinasi wisata medis yang perlu kita contoh sembari menggali upaya-upaya mempertahankan pasar dalam negeri dan menggaet pasien internasional.

Baca juga:  ‘’Quo Vadis’’ Wisata Medis

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
(Kemenparekraf) bersama Kementerian Kesehatan pernah meluncurkan gerakan terpadu Indonesian Wellness and Healthcare Tourism Movement (IWHT) tahun 2012. Program ini merupakan sinergi dua kementerian untuk mengembangkan wisata kesehatan Indonesia yang memiliki ciri khas natural dan holistik, dengan memanfaatkan kearifan budaya lokal didukung data data ilmiah dan mendapatkan dukungan dari sarana pelayanan kesehatan atau rumah sakit yang terakreditasi secara nasional dan internasional.

Menparekraf, waktu itu Mari Pangestu, mengatakan wisata kesehatan dan wellness adalah pasar yang besar yang harus dimanfaatkan. Bagian dari wisata
kesehatan dan wellness yang juga akan dikembangkan adalah grey hair tourism untuk orang
yang berusia lanjut dan pensiunan (retirement).

Sebuah studi yang dilakukan oleh KPMG Internasional menunjukkan estimasi peningkatan pengeluaran wisata kesehatan menjadi USD100 miliar pada tahun 2012, atau meningkat 20% hingga 30% dari USD78.5 miliar pada 2010. Sementara wisata wellness tercatat
mencapai pengeluaran sebesar USD106 miliar pada tahun 2010.

Baca juga:  Perekonomian Bali Hadapi Tantangan Berat di 2023

Wisata medis pertama-tama berada di tangan pengelola rumah sakit, dokter dan perawat. Apa yang selama ini diupayakan masing-masing rumah sakit pada umumnya jelas-jelas membangun kepercayaan di mata pasien dan masyarakat luas, hanya saja mungkin dalam roadmap masing-masing perlu dipertegas keterkaitannya dengan dukungan pada wisata medis di Tanah Air.

Menyambut pembangunan KEK Kesehatan yang ditandai dengan pembangunan Bali International Hospital, perlu diupayakan beberapa langkah sebagai berikut, pertama, perlunya keteladanan warga Indonesia sendiri, utamanya pejabat, publik figur dan kelompok masyarakat kaya untuk berobat di negeri sendiri. Kedua, sebagai salah satu cara promosi rumah sakit yang dipadukan dengan kemasan wisata
medis, perlu dilakukan familiarization trip dan roadshow laiknya promosi pariwisata daerah. Promosi dengan cara ini semata-mata ditujukan untuk market luar daerah bahkan luar negeri.

Ketiga, sinergi melalui joint promotion dengan industri pariwisata lainnya yang potensial di daerah masing-masing. Misalnya, kerja sama promosi dengan maskapai penerbangan, perhotelan, restoran dan hiburan umum, objek wisata, bahkan mungkin institusi pendidikan di daerah yang mengemas sebagai destinasi wisata pendidikan.

Baca juga:  Halimun Pariwisata Bali

Keempat, perlu diupayakan dalam kalender wisata daerah atau nasional, even promosi wisata medis dalam waktu tertentu, dan digelar secara regular. Misalnya saja, even wisata medis Jakarta, Surabaya, dan sebagainya.

Laiknya even wisata belanja seperti Jakarta Great Sale, atau Surabaya Shopping Festival, pada masa itu, rumah sakit-rumah sakit terdepan bergabung dan bersama-sama ‘menjual diri’ dengan membuat paket-paket pelayanan medis yang memikat.

Misal, jika dalam even wisata belanja lumrah dengan diskon, maka wisata medis pun pada even tersebut ramai-ramai memberikan diskon untuk layanan tertentu, gratis general check up, dan sebagainya. Lebih menarik pula jika dipadukan dengan paket promosi hotel. Misalnya, sembari menuggu sanak saudara berobat di rumah sakit, keluarganya menginap di hotel dengan harga miring dan layanan antar jemput.

Penulis, Dosen Hotel & Tourism Business, School of Tourism, Universitas Ciputra Surabaya

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *