Arsip - Guru sekolah, dosen dan pelajar Prancis berdemonstrasi menuntut kondisi untuk belajar dan bekerja yang lebih baik, pekerjaan dan kenaikan gaji di Nanter sebagai bagian dari mobilisasi di dalam Prancis, saat penyebaran penyakit virus korona (COVID-19), Selasa (26/1/2021). Slogan bertuliskan "Kalian tidak akan mengunci kemarahan kami". (BP/Ant)

PARIS, BALIPOST.com – Para guru di Prancis melakukan mogok kerja secara massal. Hal ini karena mereka menilai pemerintah gagal untuk mengadopsi kebijakan yang masuk akal bagi sekolah untuk pencegahan COVID-19 atau perlindungan siswa dan staf dari infeksi.

Para guru, orangtua, dan administrator sekolah telah berjuang untuk mengikuti aturan-aturan baru pengujian COVID-19, yang diumumkan sebelum akhir liburan Natal, yang berubah dua kali karena dikritik. Pemerintah Prancis telah membalikkan kebijakan sebelumnya yang dengan cepat menutup kelas-kelas dengan kasus positif virus corona.

Pemerintah mengatakan beberapa kerumitan dalam aturan-aturan yang diterapkan adalah harga yang harus dibayar untuk terus menjaga sekolah-sekolah dapat tetap buka. Namun, lonjakan kasus infeksi pada tahun baru di Prancis mencapai rekor harian mendekati 370.000 kasus dan telah menyebabkan kasus COVID-19 juga melonjak di sekolah-sekolah.

Baca juga:  Anggaran Pusat dan Daerah Diminta Dapat Mendorong Belanja Masyarakat

Hal itu berarti banyak sekolah telah kesulitan untuk tetap mengadakan kegiatan belajar secara luring. Sebab, muncul kasus infeksi di antara murid dan staf.

Selain itu, setiap kasus positif COVID-19 di sekolah juga mengakibatkan puluhan orang harus pergi ke laboratorium dan instalasi farmasi untuk pengujian. “Kelelahan dan kekesalan seluruh komunitas pendidikan telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kata sebelas serikat pekerja dalam sebuah pernyataan bersama.

Baca juga:  Antara DPD dan Parpol Tak Bisa Dipisahkan

“Menteri dan pemerintah harus bertanggung jawab total atas situasi kacau ini akibat gencarnya perubahan kebijakan, protokol yang tidak berjalan dan kurangnya alat yang tepat untuk menjamin (sekolah) dapat berfungsi dengan baik,” demikian pernyataan bersama tersebut.

Serikat-serikat pekerja itu mengatakan mereka memperkirakan banyak sekolah di Prancis akan ditutup pada Kamis dan sejumlah besar guru – termasuk sekitar 75 persen guru sekolah dasar – akan bergabung dalam aksi mogok kerja satu hari itu.

Baca juga:  Presiden Jokowi Tegaskan UMKM Kunci Perekonomian ASEAN

Sementara itu, Menteri Pendidikan Prancis Jean-Michel Blanquer mendesak para guru untuk tidak melakukan aksi mogok kerja. Dalam wawancara dengan BFM TV, Blanquer berkata: “Kita tidak bisa melakukan aksi protes terhadap virus.”

Sebagai tanggapan terhadap pernyataan menteri pendidikan Prancis itu, serikat pekerja mengatakan mereka telah menyerukan pemogokan bukan untuk melawan virus tetapi karena kekacauan yang disebabkan oleh tes dan aturan pelacakan kontak, peningkatan risiko penularan dan kekurangan pasokan masker untuk staf. (kmb/balipost)

BAGIKAN