Dokumentasi - Anggota keluarga membawa peti jenazah seorang pria yang meninggal akibat terinfeksi virus corona (COVID-19) di sebuah pemakaman di Lima, Peru, Rabu (27/1/2021). (BP/Ant)

LIMA, BALIPOST.com – Peru melaporkan kematian pertama flurona, yakni infeksi gabungan antara flu dan virus corona, pada Kamis (6/1). Pasien berusia 87 tahun dengan penyakit bawaan dan tidak divaksin COVID-19.

Kematian itu merupakan satu dari tiga kasus flurona yang terdeteksi di kawasan Amazonas, Peru utara, menurut peneliti Cesar Munayco dari Pusat Nasional untuk Epidemiologi, Pencegahan dan Pengendalian Penyakit kementerian. Dua kasus lainnya, yakni satu anak dan pasien berusia 40 tahun telah mendapatkan vaksin lengkap COVID-19, kata Munayco.

Baca juga:  Dua Pertiga Kematian Akibat COVID-19 Terjadi di Eropa

Mereka yang terinfeksi mengalami gejala seperti batuk, sakit tenggorokan dan gejala umum lainnya, kata dia. Munayco mendesak masyarakat agar disuntik vaksin COVID-19 dan influenza sebab vaksinasi mampu mengurangi risiko kematian.

“Penting untuk mempertimbangkan ini, sebab saat ini kami menghadapi wabah influenza H3N2 besar-besaran di wilayah hutan Peru, seperti (kawasan) Loreto, San Martin, Amazonas dan Ucayali,” katanya dikutip dari Kantor Berita Antara.

Baca juga:  Kasus COVID-19 Muncul, Ratusan Penerbangan di Bandara Shenzhen Dibatalkan

Peru pada Selasa mengumumkan gelombang ketiga pandemi, yang dipercepat oleh kehadiran varian Omicron pada Desember. Sejauh ini otoritas telah mengonfirmasi 309 kasus Omicron di negara Amerika Selatan itu. (kmb/balipost)

 

BAGIKAN