I Ketut Wardana. (BP/Istimewa)

NEGARA, BALIPOST.com – Pengelolaan sampah hingga Desa menjadi salah satu fokus Desa Adat terutama dalam upaya mengurangi residu untuk di TPA. Dalam upaya mendukung Bali bersih dan bebas sampah plastik.

Desa Adat Sangkaragung yang memiliki areal aliran Sungai Samblong, juga sudah mulai pengelolaan sampah berbasis sumber. Meskipun melalui program pemerintah yang sudah ada, 60 persen krama adat Sangkaragung sudah mulai mengikuti pemilahan dan pengelolaan sampah tersebut.

Bendesa Sangkaragung, I Ketut Wardana mengatakan untuk program pengelolaan sampah desa Adat bersama Keluarga Sangkaragung sudah mulai menerapkan berbasis sumber. “Tong sampah sudah mulai disediakan, ada sekitar 60 persen Krama yang sudah mulai ikut. Ada beberapa yang belum kita masih lakukan pendekatan,” ujar Wardana.

Baca juga:  Rangkaian Bulan Bung Karno, PDIP Bali Bagikan 30 Ton Beras

Desa Adat Sangkaragung teranyar memiliki krama aktif ngayah sebanyak 848 KK. Jumlah krama itu terbagi di tiga banjar adat di antaranya Banjar Adat Pangkung Gondang, Banjar Adat Sangkaragung dan Banjar Adat Samblong.

Dari kesepakatan bersama sebelumnya disepakati berkontribusi per KK Rp 20 ribu per bulan untuk pengambilan sampah. Sekedar diketahui, Sangkaragung merupakan salah satu wilayah perkotaan yang dilintasi aliran air sungai Tukadaya yang tembus ke muara Perancak.

Baca juga:  Desa Adat Banyubiru Rutin Gelar Pasraman

Upaya pengelolaan sampah ini gunanya salah satu untuk mengurangi sampah ke sungai tersebut. Melalui program pemerintah yang sudah ada yang terkoordinasi di Kecamatan Negara dan Jembrana. Program ini juga menyasar di sejumlah desa penyanding seperti Dangin Tukadaya dan Batuagung.

Bendesa yang baru kembali dikukuhkan menjabat ini, selain pada palemahan untuk pengelolaan sampah, juga terkait Parahyangan. Melalui bantuan dari Gubernur Bali Wayan Koster, Desa Adat Sangkaragung kini memiliki Wantilan dekat Pura Dalem.

Baca juga:  Tradisi "Nyakan Diwang" di Kayuputih

“Kami berterima kasih dan perhatian Bapak Gubernur untuk desa adat, kita saat ini memiliki Wantilan,” kata Bendesa. Pembangunan Wantilan saat ini sudah tahap finishing.

Selain itu, ke depan ini Desa Adat, terkait Satgas Gotong Royong juga ikut berperan dengan mengalokasikan anggaran dari APBD Semesta Berencana. Baik itu untuk membantu penanganan dan bantuan bagi Krama desa.

Dampak Pandemi ini memang sangat berpengaruh. Sehingga harapannya ke depan juga membantu dalam pemulihan perekonomian. (Surya Dharma/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *