Bilik pemeriksaan RT-PCR disediakan di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali. Pengelola Bandara Ngurah Rai bekerja sama dengan Rumah Sakit Bali Jimbaran menyiapkan fasilitas 20 bilik RT-PCR dan 10 unit mesin RT-PCR dengan kapasitas 320 tes per jam sebagai salah satu tahapan yang wajib dijalani penumpang penerbangan internasional yang tiba sebelum bisa meninggalkan area terminal internasional bandara menuju hotel karantina. (BP/Antara)

DENPASAR, BALIPOST.com – Bali belum bergerak lurus dalam upaya pemulihan ekonomi akibat pandemi Covid-19. Kekhawatiran muncul pandemi tahap tiga dan makin terpuruknya masyrakat Bali akibat ekonomi krisis, tentu harus dicarikan solusi.

Jalan tengah terhadap hal ini memang memerlukan kecerdasan menginjak pedal gas dan rem. Lalu, betulkah penerapan wajib hasil negatif PCR akan menghambat pemulihan ekonomi, atau ini justru memastikan ekonomi Bali akan segera memasuki babak baru. Kepercayaan dunia internasional terhadap pariwisata Bali harus dibangun.

Saat ini, Bali berada pada zona risiko rendah atau kuning. Ini memang nyaman untuk dikunjungi. Selain itu, dengan capaian vaksinasi yang sudah hampir rampung, Bali saat ini sedang melihat efektivitas vaksin. Apakah vaksin yang dijalankan sudah efektif untuk menekan angka kematian, maupun lonjakan tingkat hunian rumah sakit (RS).

“Karena vaksinasi di Bali untuk dosis kedua sudah mencapai lebih dari 80 persen dari target, saat ini tinggal melihat seperti apa efektivitasnya. Artinya, kalau vaksin itu efektif, maka letupan orang yang meninggal dunia dan orang yang perlu perawatan RS, juga tentunya akan tetap rendah. Mestinya vaksin ini sudah efektif,” kata ahli Virologi FKH Universitas Udayana, Prof. Dr. drh. I Gusti Ngurah Kade Mahardika.

Dijelaskannya, meski capaian vaksinasi di Bali sudah cukup tinggi, namun menurutnya, terkait syarat penerbangan yang mewajibkan penumpang menggunakan hasil tes PCR, sudah sangat tepat untuk diberlakukan. Karena menurutnya, PCR ini lebih sensitif jika dibandingkan dengan antigen.

Apalagi dalam waktu dekat, atau saat libur akhir tahun, yang diperkirakan akan ada lonjakan kunjungan ke Bali, pihaknya mengharapkan protokol filtrasi memang sebaiknya menggunakan PCR, baik untuk perjalanan melalui udara maupun lewat darat. “Jadi sebaiknya dipakai yang sangat baik standarnya, yakni dengan PCR. Baik itu untuk penerbangan maupun melalui darat,” ucapnya.

Baca juga:  UAE Cabut Larangan Penerbangan 5 Agustus

Pihaknya menilai langkah dari pemerintah sudah sangat tepat. Apalagi saat ini, Bali sudah mulai membuka penerbangan internasional, tentu syarat ini juga sebagai upaya untuk memberikan keyakinan kepada wisatawan mancanegara, bahwa filterisasi yang dilakukan di Bali, sudah dengan menggunakan satu standar internasional yang baik, yakni dengan PCR. “Kalau menggunakan teknologi lain selain PCR, kemungkinan sensitifitasnya kurang, dan rasa percaya orang asing, akan kurang terhadap cara kita mengatasi Covid,” ujarnya.

Pihaknya mengharapkan, dengan fasilitas PCR yang ada saat ini di Bali, tentu harus dilakukan persiapan, atau dilakukan peningkatan kapasitas uji untuk memfasilitasi apabila terjadinya lonjakan kunjungan ke Bali. “Sebagai kesiapan bila terjadi lonjakan kunjungan wisatawan ke Bali, selain perlunya dilakukan filterisasi dengan hasil PCR, tentu juga harus diimbangi dengan peningkatan fasilitas PCR,” harapnya.

Disikapi Arif

 

Pro kontra penerapan wajib PCR sebagai syarat penerbangan Jawa-Bali memang harus disikapi dengan arif. Berpikir secara jernih terkait risiko pariwisata pada masa pandemi tanpa pengawasan juga harus diantisipasi. Untuk itulah harus ada kesejajaran dan keberpihakan yang jelas dalam hal ini.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr. Ketut Suarjaya, untuk kapasitas kemampuan pengujian sampel PCR di Bali saat ini mencapai 7.200 per hari dalam keadaan normal. Apabila terjadi lonjakan kebutuhan tes PCR, ini kata dia kapasitasnya bisa ditambah sampai 50 persen atau sampai mencapai 10 ribuan.

Baca juga:  Perluas Wilayah Timur Garuda Layani Manado-Luwuk

Untuk prosesnya, masing-masing Lab yang melayani itu, bisa di running 3-4 kali. “Saat ini rata-rata pelayanan baru ruing sampai 2 kali. Kalau tiga kali saja bisa running, itu bisa menambah kapasitas sampai tambahan 50 persen atau sekitar 10 ribu pengambilan sampel,” ucapnya.

Terkait penambahan kapasitas PCR, dirinya mengatakan tergantung usulan Lab. Kalau memang terjadi peningkatan konsumen, tentu kapasitas boleh ditingkatkan. Bila memang ada usulan, pihaknya akan melakukan review dan visitasi, kalau memenuhi syarat akan diperbolehkan untuk menambah kapasitas.

Namun demikian, dirinya mengingatkan kepada Lab yang melayani PCR, agar tidak menaikkan harga. Kalau ada yang sampai menaikkan harga, pihaknya secara tegas mengatakan akan menutup Lab tersebut. “Selama ini, masih ada ditemukan Lab yang menaikkan harga atas aduan dari masyarakat. Terkait hal itu, kami juga sudah memberikan teguran. Selanjutnya, apabila masih tidak diindahkan, tentu sanksinya adalah penutupan,” tegasnya.

Untuk persyaratan penerbangan dengan menggunakan hasil PCR, hal itu kata dia, dengan tujuan untuk melindungi Bali. Apalagi dalam waktu dekat, akan ada perhelatan Internasional di Bali.

Tentu dalam hal ini, kita ingin membuktikan kalau di Bali, penanganan Covid-19 sudah menggunakan standar internasional. “Kita ingin meyakinkan dunia internasional, kalau Bali ini aman. Jangan sampai gara-gara kita perlonggar filterisasinya, kasus Covid-19 malah naik lagi,” ucapnya.

Baca juga:  Nataru, Pengajuan "Extra Flight" Turun 100 Persen Lebih

Namun, pendapat lain datang dari kalangan pariwisata. Banyak kalangan mengeluhkan syarat swab PCR untuk berwisata ke Bali, karena menjadi beban biaya bagi pelaku perjalanan.

Ketua PUTRI Bali Inda Trimafo Yudha mengatakan, syarat PCR merupakan upaya menyeimbangkan aspirasi masyarakat antara pariwisata dan kesehatan masyarakat karena negara juga mesti mengikuti anjuran WHO. “Tetap berupaya menyeimbangkan antara ekonomi dan kesehatan tapi lebih fleksibel. Bagaimana caranya agar tidak membekukan ekonomi masyarakat yang sudah mulai menggeliat dan mengamankan kondisi pandemi dengan menjaga status level, ya solusinya salah satunya dengan PCR. Kalau memang harus PCR, agar bisa negosiasi cukup dengan antigen karena sudah vaksin dan scan PeduliLindungi yang saya lihat sudah lancar. Justru yang perlu diperketat masuknya bagi yang belum vaksin,” ungkapnya.

Dengan kesepakatan mesti dilakukan swab PCR, maka biaya PCR perlu diturunkan. Selain biaya PCR, juga perlu dipertimbangkan soal kemampuan lab di Bali. Dengan traffic 6.000 – 9.000 orang ke Bali, maka kapasitas lab dalam mengolah PCR perlu dioptimalkan. Untuk mengambil sampel memang bisa dilakukan di mana saja namun kemampuan lab dalam mengolah sampel perlu juga dipikirkan. “Jangan sampai lama menunggu hasil sampai mengganggu jadwal penerbangan orang-orang,” ujarnya.

Berharap wisatawan domestik maupun mancanegara untuk datang, maka hal-hal yang mendukung perjalanan ke Bali juga harus dipikirkan. Selain PCR dan kemampuan lab, hal lain juga harus mendukung seperti ketersediaan direct flight untuk kemudahan dan kenyamanan wisatawan. (Yudi Karnaedi/Citta Maya/balipost)

 

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *