Kadisbud Arya Sugiartha (kiri) dan Warih Wisatsana. (BP/lun)

DENPASAR, BALIPOST.com – Para seniman kembali diberi kesempatan tampil dalam hajatan seni di masa pandemi COVID-19, melalui Festival Seni Bali Jani (FSBJ) III 2021. Hajatan seni yang berlangsung 23 Oktober – 6 November 2021 ini tetap menerapkan protokol kesejatan (prokes) agar tidak menimbulkan klaster baru penyebaran virus Corona.

Hajatan seni ini digelar secara hybrid yaitu luring dan daring. Seniman yang tampil secara luring, harus sudah divaksinasi tahap II dan saat tampil harus memakai masker atau faceshield.

Kadisbud Bali, Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.SKar., M.Hum.,saat dialog sosialisasi FSBJ III tahun 2021 di Bali TV, Kamis (14/10) malam lalu mengatakan, sama dengan FSBJ sebelumnya, hajatan ini menghadirkan seni inovatif, modern dan kontemporer guna merangsang kegairahan berkesenian generasi milenial. Selain sebagai ruang edukasi, FSBJ ini diharapkan akan menjadi ladang pembibitan bagi generasi muda Bali untuk tumbuh berkembang sebagai kreator-kreator di bidang seni kontemporer dan modern.

Baca juga:  Diduga Minum Racun, Tamu Hotel Tewas

Mantan Rektor ISI Denpasar ini mengatakan, Pemprov Bali menempatkan kebudayaan sebagai hulu pembangunan. Sebagai hulu, diharapkan nilai-nilai budaya berimbas pada sendi-sendi pembangunan di Bali. Karena itu kegiatan kebudayaan diupayakan diberikan ruang yang seluas-luasnya, salah satunya FSBJ 2021.

Kendati masih dalam masa pandemi, kegiatan seni budaya ini tetap dilaksanakan. Melalui penyelenggaraan festival ini diharapkan mampu meningkatkan imun tubuh di tengah guncangan psikologis menghadapi pandemi.

Baca juga:  Sempat Diamankan, Pemilik Layangan Wajib Lapor

Tentu, penerapan prokes tetap menjadi perhatian. Jadi, dalam konteks ini pemerintah hadir menyediakan ruang-ruang kreatif bagi seniman.
FSBJ III ini mengangkat tema “Jenggala Sutra: Susastra Wana Kerthi”, yaitu Semesta Kreativitas Terkini Harmoni Diri dan Bumi dalam Keleluasaan Penciptaan Baru.”

Kurang lebih, inti tema ini diterjemahkan sebagai pemuliaan terhadap hutan sebagai nafas bumi. Dalam konteks ini hutan dibaca sebagai sebuah literatur yang mengandung pemaknaan yang mendalam.

Dengan demikian, manusa sebagai buana alit dan hutan atau alam sebagai buana agung bisa selalu harmoni. ‘’Dengan memahami hutan, kita bisa hidup lebih bagus atau lebih harmoni,’’ ujarnya.

Baca juga:  Baru Sembuh dari COVID-19, Ini Dua Saran Buat Penyintas

Tim Kurator FSBJ III, Warih Wisatsana mengatakan sebanyak 45 program mata acara ditampilkan dalam festival kali ini. Kebijakan pemerintah untuk terus melangsungkan festival ini sangat strategis.

Di tengah masyarakat menghadapi pandemi, melalui festival ini diharapkan muncul kesadaran atau kepudulian terhadap lingkungan, dengan merawat hutan sebaik-baiknya. Dikatakan, dalam festival kali ini akan ada penampilan kiprah kesenimanan dua maestro yang diharapkan mampu mengilhami kreativitas seniman muda dalam berkarya.

Yakni, penyair Umbu Landu Paranggi (alm) dan penari kontemporer Nyoman Sura (alm). Sumbangsih kedua seniman ini diharapkan dapat menginspirasi melalui pemutaran video dokumenter, pembacaan puisi, pentas tari dan diskusi. (Subrata/balipost)

BAGIKAN