Tangkapan layar peta sebaran kasus COVID-19 di Indonesia. (BP/kmb)

DENPASAR, BALIPOST.com – Tambahan kasus COVID-19 yang dicatatkan nasional terus menunjukkan penurunan. Pada Kamis (12/8) jumlahnya mencapai 24 ribuan kasus.

Kabar baik lainnya, jumlah pasien sembuh masih bertambah cukup tinggi. Jumlahnya mencapai kisaran 36 ribuan orang.

Sementara itu, kasus kematian masih cukup tinggi. Ada di angka seribu empat ratusan orang.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan terjadi penambahan kasus COVID-19 sebanyak 24.709 orang. Kumulatifnya menjadi 3.774.155 orang.

Pada hari ini dilaporkan yang sembuh sebanyak 36.637 orang. Total pasien sembuh menjadi 3.247.715 orang.

Korban jiwa tercatat 1.466 orang. Sehingga kumulatifnya menjadi 113.664 orang selama pandemi berlangsung sejak Maret 2020.

Jumlah pasien COVID-19 yang masih dirawat mencapai 412.776 orang. Suspek sebanyak 302.070 orang.

Tak Realtime

Terkait tingginya kasus kematian, Tenaga Ahli Kementerian Kesehatan, dr. Panji Fortuna Hadisoemarto, MPH, menyampaikan berdasarkan analisis dari data National All Record (NAR) Kementerian Kesehatan, didapati bahwa pelaporan kasus kematian yang dilakukan daerah tidak bersifat realtime. Itu, merupakan akumulasi dari bulan-bulan sebelumnya. NAR adalah sistem big data untuk pencatatan laboratorium dalam penanganan Covid-19 yang dikelola oleh Kemenkes.

Baca juga:  Kematian COVID-19 Dekati 300 Ribu Kasus, Ini Peringatan WHO

Berdasarkan laporan kasus COVID-19 di tanggal 10 Agustus 2021, misalnya, dari 2.048 kematian yang dilaporkan, sebagian besar bukanlah angka kematian pada tanggal tersebut atau seminggu sebelumnya. Bahkan 10,7% diantaranya berasal dari kasus pasien positif yang sudah tercatat di NAR lebih dari 21 hari namun baru terkonfirmasi dan dilaporkan bahwa pasien telah meninggal.

”Kota Bekasi, contohnya, laporan kemarin (10/8) dari 397 angka kematian yang dilaporkan, 94% diantaranya bukan merupakan angka kematian pada hari tersebut, melainkan rapelan angka kematian dari bulan Juli sebanyak 57% dan bulan Juni dan sebelumnya sebanyak 37%. Lalu 6% sisanya merupakan rekapitulasi kematian di minggu pertama bulan Agustus,” terang dr. Panji.

Baca juga:  Bunker RSUP Sanglah Rampung, Antrean Radioterapi Dipastikan Berkurang

Contoh lain adalah Kalimantan Tengah dimana 61% dari 70 angka kematian yang dilaporkan kemarin adalah kasus aktif yang sudah lebih dari 21 hari namun baru diperbaharui statusnya.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, drg. Widyawati, MKM mengakui adanya keterlambatan dalam pembaharuan pelaporan dari daerah akibat keterbatasan tenaga kesehatan dalam melakukan input data akibat tingginya kasus di daerah mereka pada beberapa yang minggu lalu. ”Tingginya kasus di beberapa minggu sebelumnya membuat daerah belum sempat memasukkan atau memperbarui data ke sistem NAR Kemenkes,” terangnya, dikutip dari rilis diterima.

”Lonjakan-lonjakan anomali angka kematian seperti ini akan tetap kita lihat setidaknya selama dua minggu ke depan,” tambah drg. Widyawati.

Baca juga:  Pemerintah Tak Ingin Revisi Dua UU Ini

dr. Panji menuturkan lebih dari 50 ribu kasus aktif yang saat ini adalah kasus yang sudah lebih dari 21 hari tercatat namun belum dilakukan pembaharuannya.

”Kita saat ini sedang mengkonfirmasi status lebih dari 50 ribu kasus aktif. Jadi beberapa hari ke depan akan ada lonjakan di angka kematian dan kesembuhan yang bersifat anomali dalam pelaporan perkembangan kasus Covid-19. Tapi ini justru akan menjadikan pelaporan kita lebih akurat lagi,” tutur dr. Panji.

Kementerian Kesehatan sangat mengapresiasi pemerintah daerah yang telah melakukan pembaruan data sesegera mungkin. ”Tentunya ini tidak mengurangi semangat kita untuk terus berpacu menyampaikan data yang transparan dan realtime kepada publik,” tutur drg. Widyawati. (Diah Dewi/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *