Webinar Semesta mahasiswa Pascasarjana ISI Denpasar angkatan 2020, Minggu (25/7). (BP/istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Seni virtual akan selalu hadir pada masa pandemi saat ini, maupun di masa datang. Seni virtual akan menjadi genre baru melengkapi genre-genre seni yang telah ada.

‘’Seni tradisi oleh potensi estetika organisnya, senantiasa lentur dan selalu mampu beradaptasi dengan kehadiran seni virtual. Estetika tradisi akan secara leluasa masuk ke dalam inti kreativitas dan inovasi seni virtual,’’ ujar Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. Wayan Kun Adnyana saat menjadi keynote speaker dalam webinar Semesta bertajuk “Seni Virtual dan Masa Depan Seni Tradisi” yang diselenggarakan Mahasiswa Pascasarjana ISI Denpasar Angkatan 2020, Minggu (25/7).

Seminar itu menampilkan narasumber Dr. Aris Setiawan, S.Sn., M.Sn., dosen Jurusan Etnomusikologi ISI Surakarta dan pegiat seni Anom Darsana (Antida Music Production), dipandu Vanesa Martinda.
Dr. Aris Setiawan mengatakan, pandemi COVID-19, menjadi catatan suram bagi perkembangan seni tradisi.

Baca juga:  Nasionalisme Jangan Hanya Jadi Euforia

Upaya agar seni tradisi mampu lentur dan cair masuk gerbong baru bernama panggung virtual, boleh dikata belum menemukan titik terang. Kodrat panggung virtual seolah-olah bertolak belakang dengan gaya dan karakter seni tradisi.

Aris Setiawan mengatakan, dunia virtual selama ini mendamba pada sesuatu yang filmis. Sementara kodrat seni tradisi menuju keintiman yang kontemplatif. Cara menikmatinya justru tak sekadar dilihat, tapi juga didengar, dirasakan, dan dibatin. ‘’Perbedaan inilah yang menyebabkan seni tradisi terseok-seok kala harus ‘hijrah’ menjadi wujud anyar atas nama konten,’’ ujarnya.

Masuknya seni tradisi dalam dunia virtual tidak cukup dibaca; hanya “memindahkan” tubuh pertunjukan, tetapi juga mengalami lapis-lapis pemaknaan yang tidak tunggal. Dikatakan, dunia virtual memang sebuah keniscayaan, dan harus diakui bahwa, pelaku kesenian tradisi gagap dalam menyikapi hal itu. Baru tersadarkan saat pandemi datang, kala intimitas kerumunan menjadi hal tabu dan ditakuti.

Baca juga:  Gubernur Koster Ajak ISI Bersinergi Jadi Asisten Pembangunan Bali

Jauh sebelum pandemi mengoyak, kajian-kajian ilmiah tentang seni (tradisi) virtual jarang dilakukan, tidak menarik minat para peneliti dan akademisi.
‘’Kita masih beranggapan bahwa kesenian tradisi mampu tumbuh dan hidup dalam dunianya yang khas, di mana keramaian, persentuhan tubuh, bahkan
tatapan mata para penonton secara langsung menjadi tolok ukur keberhasilan. Oleh karena itu, di saat keharusan tampil di jagat virtual, kita tidak memiliki acuan dan peta jalan yang jelas, tentang bagaimana mekanisme ideal saat seni tradisi harus bermetamorfosis menjadi tagar dan trending,’’ katanya.

Sementara itu Anom Darsana mengakui pandemi mematikan semua kegiatan seni pertunjukan dan berbagai festival yang dibuat, serta seni pertunjukan lainnya. Namun pandemi tidak mematikan ide-ide dan gagasan.

Mengawini seni dan teknologi yang sudah sangat erat hubungannya dan menciptakan karya baru secara virtual. “Live streaming, hanya itu yang bisa dilakukan selama pandemi ini untuk menuangkan ide-ide dan gagasan di seni pertunjukan. Semua kegiatan seni tidak luput dari protokol kesehatan selama pandemi,’’ ujarnya sembari menambahkan program yang digagas dan selenggarakan sekarang adalah telusur seni tradisi atau panggung seni tradisi Bali.

Baca juga:  Seni Virtual di Tengah Pandemi

Seri telusur seni tradisi ini merupakan sebuah upaya dari Antida Music Production untuk mendokumentasikan berbagai kekayaan seni tradisi yang ada di Bali. Tradisi itu harus dijaga, dilestarikan dan juga didokumentasikan untuk dapat menjembatani generasi muda yang cenderung lebih akrab dengan teknologi. Pendokumentasian ini diharapkan mampu menjadi media yang mewadahi seni tradisi di Bali.

Rektor ISI Denpasar Prof. Kun mengapresiasi pelaksanaan webinar Semesta (seminar berwawasan seni untuk kita) serangkaian diesnatalis ke-18 ISI Denpasar ini. ‘’Kegiatan ini berkontribusi dalam penumbuhan tradisi wacana di lingkungan mahasiswa pascasarjana,’’ pungkasnya. (Subrata/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

Captcha *