Warga menunjukkan butiran es yang berhasil ditampung saat hujan es. (BP/Dokumen)

YOGYAKARTA, BALIPOST.com – Hujan es kembali terjadi di Yogyakarta, Rabu (10/3) sore. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta menyebutkan hujan es terjadi di sebagian wilayah Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dikutip dari Kantor Berita Antara, hujan es ini terjadi di Kota Yogyakarta dan Bantul antara pukul 15.00 sampai 16.00 WIB. Kepala Stasiun Klimatologi Sleman, Reni Kraningtyas mengatakan sejak awal tahun ini, hujan es berulang kali terjadi di DIY.

Baca juga:  Juli 2021, Jumlah WNA di Bali Bertambah Ribuan Orang Dibandingkan Sebulan Sebelumnya

Total dalam rentang waktu Februari hingga awal Maret, sudah lima kali hujan es terjadi. Yakni pada 1 Februari, 27 Februari, 2 Maret, 3 Maret, dan 10 Maret 2021.

Berdasarkan laporan yang diterima BMKG, di kawasan Kota Yogyakarta hujan es terjadi di kawasan Malioboro, Nitikan, Taman Siswa, Mergangsan, Gambiran, Sindunegara, Glagahasri, Jalan Veteran, Sosrowijayan, serta Kota Gede. Sedangkan di Kabupaten Bantul, hujan es terjadi di Kecamatan Sewon, Kasihan, Banguntapan, serta Krapyak.

Baca juga:  Candi Borobudur Jadi Momentum Nostalgia Obama dan Disorot Dunia

Reni menjelaskan hujan es terjadi karena adanya pengangkatan massa udara yang hangat, lembab, dan labil ke atmosfer. Berikutnya, pemanasan sinar matahari yang intensif dari pagi sampai siang hari menyebabkan terbentuknya awan konvektif yaitu awan Cumulonimbus (Cb).

Setelah udara yang labil tersebut terjadi kondensasi, lanjut Reni, kemudian terbentuk titik-titik air. Karena kuatnya energi dorongan ke atas saat terjadi proses konveksi maka puncak awan sangat tinggi hingga sampai freezing level yang selanjutnya terbentuk kristal-kristal es dengan ukuran yang cukup besar.

Baca juga:  Budidaya Burung Murai Batu

“Saat awan sudah masak dan tidak mampu menahan berat uap air, terjadi hujan lebat disertai es. Es yang turun ini bergesekan dengan udara sehingga mencair dan ketika sampai permukaan tanah ukurannya lebih kecil,” katanya. (kmb/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *