Salah satu pedagang sedang melakukan pembayaran e-retribusi yang diterapkan PD Pasar Singaraja untuk mengurangi interaksi fisik di tengah pandemi COVID-19. (BP/Istimewa)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Pandemi COVID-19 menyebabkan terjadi evolusi dalam pelaksanaan transaksi keuangan untuk mencegah penularan virus ini. Teknologi digital yang mendukung interaksi non-sentuh menjadi opsi, salah satunya di pasar tradisional, sehingga pedagang dan pembeli bisa bertransaksi dengan meminimalkan kontak fisik.

Menurut Direktur Utama PD Pasar Singaraja, Made Agus Yudirsana S.H., pihaknya juga berupaya mengadopsi e-retribusi dalam menopang dan mendorong laju perdagangan di era new normal ini. Pihaknya pun memprioritaskan penerapan sistem e-retribusi untuk menjaga agar transaksi di pasar rakyat tetap nyaman, mudah dan minim interaksi fisik. “Kami bekerja sama dengan DOKU, Bank Mandiri dan MKP Mobile Semarang untuk meluncurkan sistem e-retribusi ini,” ungkapnya, Selasa (9/3).

Terkait ini, Branch Manager Bank Mandiri Cabang Singaraja, Luh Putu Yuni Hartini mengatakan pihaknya senantiasa memfasilitasi interaksi kegiatan terkait keuangan antara PD. Pasar Singaraja dengan pasar-pasar di bawah naungannya. Juga para pedagang yang berjualan di pasar-pasar tersebut.

Baca juga:  Jogja Marathon 2017, Diikuti 6.000 Pelari Indonesia dan Mancanegara

Menghadapi situasi pandemi saat ini, Bank Mandiri mendorong pedagang di Pasar Rakyat Banjar dan Pasar Seririt untuk melakukan transaksi dengan mengedepankan protokol kesehatan dan mengurangi kontak secara fisik, lewat e-retribusi. Untuk mewujudkan penerapan sistem e-retribusi di kedua pasar tersebut, pihaknya menggandeng MKP Mobile Semarang sebagai penyedia mesin POS digital yang didukung oleh DOKU sebagai agregator metode pembayaran sekaligus penyelenggara QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) yang memegang lisensi Bank Indonesia.

“Melalui digitalisasi, pasar bisa menjadi potensi penambah pendapatan PD Pasar Singaraja karena mereka bisa membayar retribusi menggunakan sistem, sehingga pencatatannya rapi dan bisa lebih dipertanggungjawabkan. Agar identitas setiap pedagang tidak terkompromi, kode QRIS statis yang dikeluarkan oleh DOKU untuk setiap pedagang bersifat unik, walaupun secara kasat mata nampak sama,” jelasnya.

Baca juga:  UKM Harus Kompetitif dan Adaptif

Ditambahkan Nicholas Anggada, CEO MKP Mobile, konsep besar digitalisasi pasar ini sesuai dengan pola-pola perdagangan baru sebagai dampak pandemi COVID-19. Di antaranya, peningkatan penggunaan cara pembayaran non-tunai, dan penurunan mobilitas dan aktivitas sosial di ruang publik.

Untuk itu, perlu disadari keberlangsungan ekonomi, bisnis, produksi, distribusi, logistik, dan promosi tak lepas dari dukungan inovasi dan peran teknologi. Dalam konteks pasar rakyat, PD Pasar menjadi pihak terdepan yang mewujudkan hal itu sehingga pasar semakin berfungsi sebagai penyokong perekonomian daerah karena kedepannya inovasi dan teknologi lainnya untuk pasar akan semakin berkembang tidak hanya berhenti di digitalisasi pedagang saja.

Baca juga:  Mandiri Serahkan Satu Unit Ambulans ke Unud

Pada kesempatan yang sama Chief Product Digital Services Officer DOKU, Rama Prahara,
mengatakan sebagai pionir penyedia sistem pembayaran online di Indonesia, pihaknya menyaksikan teknologi pembayaran online secara dinamis bertransformasi dan memberikan manfaat untuk beragam model bisnis kliennya. Ia mengatakan penerapan sistem e-retribusi di kedua pasar ini menandai babak baru bagi perjalanan inovasi produk DOKU.

Sistem pembayaran benar-benar digunakan oleh publik, di luar koridor bisnis Fintech dan korporat. “Hal ini sejalan dengan misi kami untuk memeratakan akses keuangan dengan terus menyediakan opsi pembayaran yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat Indonesia,” sebutnya. (kmb/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

Captcha *