Warga subak berhasil memperbaiki irigasi yang putus karena tergerus tanah longsor beberapa waktu lalu. (BP/Istimewa)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Irigasi yang terletak di Desa Mayong tergerus tanah longsor sampai putus pada 6 Januari 2021. Sejak irigasi ini terputus, air tidak bisa dialirkan untuk mengairi ratusan hektare sawah di Desa Bubunan dan Desa Rangdu, Kecamatan Seririt.

Kerusakan ini sendiri sudah dilaporkan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR), Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan (DPKP) dan Dinas Pertanian (Distan) Buleleng. Tak cukup sampai di situ, warga subak ini meminta agar DPRD Buleleng memfasilitasi kerusakan infrastruktur pertanian karena bencana alam.

Dari laporan itu, petani berharap infrastruktur ini diperbaiki baik dengan darurat atau langsung dibangun dengan permanen. Sayang, karena kesulitan anggaran, perbaikan oleh instansi terkait di daerah belum bisa merealisasikan perbaikan tahun ini.

Baca juga:  Setiap Kecamatan Dibentuk Pos Damkar

Tidak ingin sawah di wilayah mereka kering, warga subak bersama aparat desa terkait kompak uuntuk menghimpun dana swadaya. Dengan dana itu, irigasi telah berfungsi setelah petani memasang sebanyak 6 batang pipa ukuran 12 dim dan 5 batang pipa ukuran 10 dim.

Perbekel Desa Rangdu, Kecamatan Seririt, I Made Gargita, dihubungi Kamis (25/2), Desa  mengatakan, inisiatif krama subak dan aparat perangkat desa untuk memperbaiki kerusakan irigasi secara swadaya karena tidak ingin sawah di wilayahnya kekeringan. Apalagi di tengah pandemi COVID-19 yang membuat perekonomian tidak menentu, sehingga dikhawatirkan akan menambah persoalan yang dialami petani.

Sementara, bantuan pemeriintah untuk memperbaiki belum bisa dipastikan kapan waktunya. Bahkan, dari koordinasi ke Dinas PUTR, perbaikan baru bisa dilakukan pada 2022. “Intinya, kami tidak ingin petani di desa tambah sulit tidak bisa mengolah sawah karena air tidak bisa mengalir. Kami tunggu bantuan pemerintah tahun depan baru dijanjikan, sehingga warga subak kami urunan swadaya memperbaiki irigasi itu,” katanya.

Baca juga:  Gubernur Bali Wajibkan Hotel dan Supermarket Jual Buah Lokal Bali

Menurut Perbekel Gargita, untuk perbaikan secara darurat itu menghabiskan dana swadaya petani mencapai Rp 30 juta. Dana sebesar itu kemudian digunakan membeli bahan-bahan seperti pipa dan material bangunan yang lain.

Selain itu, warga subak juga mendapat bantuan berupa pinjaman pipa dari Perusahaan Daerah (Perumda) Tirta Hita Buleleng. Sejumlah batang pipa dengan ukuran 12 dim dan 10 dim berhasil dipasang. Dengan cara itu, mulai 24 Februari 2021 yang lalu air dapat dialirkan.

Baca juga:  Buleleng Pindahkan 15 OTG dan GR ke Tempat Karantina Provinsi Bali

Walaupun volumenya tidak sebesar sebelumnya, namun perbaikan murni suwadaya petani itu mencegah sawah di Desa Rangdu dan Bubunan, terhindar dari kekeringan. “Selain dengan dana suwadaya untuk membeli pipa, kami juga dibantu oleh Perumda Tirta Hita yang memberi pinjaman pipa, sehingga sekarang irigasi sudah berfungsi seperti semula, dan walaupun debit belum normal, namun sawah tetap bisa ditanami padi,” katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, tanah longsor memutus irigasi di Banjar Dinas/Desa Mayong, Kecamatan Seririt. Putusnya irigasi ini mengancam sekitar 150 hektare sawah di Subak Rangdu, Subak Ringdikit, Subak Tua Bubunan, dan Subak Anyar Bubunan terancam kekeringan.

Pascakejadian itu, pemerintah daerah belum merealisasikan bantuan perbaikan, sehingga warga subak dengan swadaya melakukan perbaikan darurat dengan memasang sejumlah pipa. (Mudiarta/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

Captcha *