RSUD Buleleng mengoperasikan ruang ICU COVID-19. Ruang ini akan merawat pasien terpapar COVID-19 dengan status gejala berat dan kritis. (BP/Mud)

SINGARAJA, BALIPOST.com – RSUD Buleleng sebagai rumah sakit rujukan pasien COVID-19 kembali melengkapi fasilitas untuk pengobatan para pasien. Sekarang rumah sakit plat merah ini mengoperasikan ruang Intensif Care Unit (ICU) COVID-19. Ruang ini menampung pasien terpapar COVID-19 dengan status gejala berat dan kritis.

Direktur Utama (Dirut) RSUD Buleleng dr. Putu Arya Nugraha Sp.PD Senin (1/2) mengatakan, pengoperasian ICU COVID-19 ini, maka di rumah sakit yang dipimpinnya itu sekarang sudah memiliki 3 kualifikasi ruangan untuk pasien terpapar COVID-19. Ini terdiri dari untuk pasien dengan status gejala Orang Tanpa Gejala (OTG) di ruang Mahotama dan Flamboyan. Kemudian pasien OTG gajala sedang dirawat di ruang Jempiring. Yang terbaru adalah ICU untuk merawat pasien dengan gejala berat dan kritis.

Baca juga:  Pasukan Elit TNI Dikerahkan Amankan IMF-WB

ICU ini menggunakan ruang Lely. Setelah memiliki ruang ICU COVID-19, mulai kemarin, pihaknya menginstruksikan tim dokter untuk melakukan analisa teknis terhadap pasien yang membutuhkan perawatan intensif, maka akan dipindahkan ke ICU COVID-19. Dari tiga kualifikasi ruang isolasi ini, RSUD Buleleng sekarang memiliki total tempat tidur (TT) untuk pasien COVID-19 sebanyak 60.

“Sekarang kita sudah punya 3 kualifikasi ruang isolasi untuk merawat pasien COVID-19. Mulai hari ini dianlisa dan kalau masuk kategori berat dan kritis pasien akan dipindah ke ICU-COVID-19,” katanya.

Baca juga:  Proyek Underpass Simpang Tugu Ngurah Rai Selesaikan 40 Titik Pengeboran

Menurut dr. Arya, pengoperasian ICU COVID-19 ini, akan mengurangi interaksi perawat, paramedis, dan dokter dengan pasien. Dengan demikian, mengurangi potensi tim medis ikut terpapar virus berbahaya ini.

Selain itu, sesuai Prosedur Tetap (Protap) mengatur tim medis harus mengurangi interaksi dengan pasien COVID-19. Namun demikian treatment pengobatan pasien tetap diilakukan dengan memanfaatkan monitoring melalui CCTV dan layar monitor. “Kita bisa lihat pasien yang mana perlu perhatian, sehingga lebih selektif. Kondisi oksigen, infusnya, semuanya bisa dilihat jarak jauh, sehinga ini mengurangi kontak untuk memutus penularan,” katanya. (Mudiarta/Balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

Captcha *