Pelaksanaan Prokes COVID-19 saat PPKM, Rabu (13/1). (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Tambahan kasus COVID-19 secara harian di Bali kini sudah bukan lagi ada di bawah 100 orang bahkan di atas 100 orang. Selama 3 hari berturut-turut, jumlahnya sudah ada di atas 200 bahkan menyentuh di atas 350 orang sehingga dalam waktu singkat, kumulatif kasus yang ditangani Bali sudah melampaui 20.000 orang.

Bali dua hari berturut-turut memecahkan rekor kasus harian, dengan jumlah tertinggi yang pernah dicapai pada Selasa (12/1) sebanyak 350 orang. Pada Rabu (13/1), jumlah kasus COVID-19 yang dilaporkan Bali masih cukup tinggi meski sudah turun dibandingkan sehari sebelumnya.

Jumlahnya sebanyak 268 orang. Kumulatif kasus COVID-19 Bali mencapai 20.255 orang.

Korban jiwa COVID-19 bertambah sama dengan jumlah dari sehari sebelumnya.

Data Satgas Penanganan COVID-19, melaporkan terdapat 6 orang meninggal dunia karena COVID-19. Kumulatif kasus meninggal mencapai 579 orang (2,86 persen). Rinciannya 575 WNI dan 4 WNA.

Baca juga:  Anjlok, Tomat Petani Hanya Laku Rp 1000/Kg

Kasus sembuh masih dilaporkan. Namun jumlahnya lebih sedikit dari kasus baru. Terdapat 121 orang dinyatakan sembuh. Total kasus sembuh mencapai 17.727 orang (87,52 persen).

Kasus aktif kini berjumlah 1.949 orang (9,65 persen). Mereka dirawat di 17 RS dan dikarantina di Bapelkesmas, UPT Nyitdah, Wisma Bima dan BPK Pering.

Hal Sederhana

Dalam laporan evaluasi mingguannya, Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19, Prof. Wiku Adisasmito, kembali mengajak masyarakat untuk menerapkan hal-hal sederhana dalam mencegah penularan COVID-19. Hal itu ialah protokol kesehatan 3M. Yaitu memakai masker, menjaga jarak dan rajin mencuci tangan.

Karena, dengan mencegah penularan, maka peningkatan kasus COVID-19 dapat ditekan. Dengan menurunnya jumlah kasus, maka tingkat keterisian tempat tidur di rumah sakit dapat diantisipasi.

Masyarakat pun dapat melindungi sahabat, serta keluarga hanya dengan memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan. “Mengapa hal-hal sederhana ini tidak anda jalankan? Pertanyaan ini wajib kita tanyakan kepada diri masing-masing, apakah protokol kesehatan memang lebih sulit dibandingkan dengan kehilangan orang yang kita kasihi untuk selama-lamanya. Saya rasa jawabannya pasti tidak,” Wiku mengatakannya dalam siaran yang disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (12/1) dipantau dari Denpasar.

Baca juga:  Jika Internet Diputus saat Nyepi, Mitigasi Bencana di Karangasem akan Terganggu

Apa yang disampaikan Wiku cukup beralasan, karena perkembangan kasus Covid-19 dalam satu minggu terakhir ini cukup berat. Dimana kasus harian berada pada angka 9 ribu bahkan melebih 10 ribu per harinya. Hal ini berimbas negatif pada efektivitas penanganan Covid-19. Sebagai contoh, dengan meningkatnya keterisian rumah sakit akan menambah beban para petugas kesehatan.

Dan hal ini juga secara langsung berdampak negatif pada keseluruhan penanganan di rumah sakit tersebut. Apabila angka ini terus meningkat dan menyebabkan rumah sakit penuh, maka sangat berpotensi menaikkan angka kematian akibat Covid-19.

Baca juga:  Pemkab Bangli Musnahkan Ribuan Arsip

“Sistem kesehatan kita akan lumpuh. Apabila sistem kesehatan kita lumpuh, hal ini tidak hanya merugikan penderita Covid-19 semata. Namun juga masyarakat umum yang membutuhkan perawatan akibat penyakit lain selain Covid-19. Utamanya mereka yang membutuhkan pelayanan kesehatan yang esensial seperti penderita penyakit paru dan jantung,” lanjut Wiku.

Dan jika rumah sakit di Indonesia tidak dapat menangani hal itu, maka angka kematian di Indonesia bisa meningkat bukan semata-mata karena Covid-19, namun juga karena penyakit lain yang tak bisa ditangani akibat penuhnya rumah sakit.

“Saya ingin sekali lagi mengingatkan, kepada masyarakat dan pemerintah daerah, terutama yang masih meremehkan Covid-19. Jangan sampai kita menjadi abai, dan menganggap angka (Covid-19) yang disampaikan ini hanya sekedar angka. Ingatlah, bahwa angka-angka ini merepresentasikan nyawa,” pesan Wiku. (Diah Dewi/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.