Alat rapid test. (BP/eka)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Ribuan guru yang belum mengikuti swab test akan dialihkan ke Rapid Antigen. Berdasarkan informasi, dari 6.284 guru di Badung, sebanyak 2.609 guru telah mengikuti swab test.

Plt Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olah Raga (Disdikpora) Badung, Made Mandi dikonfirmasi, Senin (4/1) membenarkan belum semua guru mengikuti swab test. Namun, para guru yang belum mengikuti swab test akan dialihkan dengan rapid tes antigen. “Ini dilakukan untuk memastikan kondisi kesehatan tenaga pendidik di Badung. Namun, saat ini baru 2.609 orang guru swab, dan ada total 74 orang yang hasilnya positif. Yang positif tersebut sesuai hasil konfirmasi kami, sebelum tahun baru mereka sudah pulih kembali,” ungkapnya.

Baca juga:  Korupsi Tukad Mati, Ini Satu Lagi Tersangka yang Ditetapkan Kejaksaan

Menurutnya, sesuai data dari Disdikpora sendiri ada sebanyak 6.284 guru di Badung yang terdiri dari 2.451 guru PNS dan 3.833 non PNS. Guru yang belum mendapat layanan swab tes akan diarahkan mengikuti rapid tes antigen. “Sisa guru yang belum mendapat layanan swab tes dialihkan ke rapid tes antigen. Kami juga sudah berkoordinasi dengan Diskes kebetulan masih sedang dipersiapkan,” katanya.

Dijelaskan, swab tes merupakan program dari Diskes Badung untuk semua pegawai di lingkungan Pemkab Badung. Namun, Disdikpora Badung mengusulkan tenaga pengajar mendapatkan prioritas pertama, karena rencana awal Badung akan memberlakukan belajar tatap muka. “Hanya saja untuk proses pembelajaran tatap muka sesuai arahan dari pimpinan sementara ditunda dulu dalam batas waktu yang tidak ditentukan, karena Badung masih zona merah,” jelasnya.

Baca juga:  Cegah Meluasnya Transmisi Lokal, Warga di Dua Banjar Ini Dites Cepat

Sekretaris Disdikpora Badung ini belum berani memastikan kapan kapan belajar tatap muka diterapkan di Badung lantaran harus melihat perkembangan kasus COVID-19. “Kalau masih ada peningkatan tentu harus dikaji kembali atau ditunda dalam waktu tidak ditentukan, tapi kalau Januari ini bagus perkembangannya atau kasus menurun mungkin bisa dipertimbangkan untuk dilakukan belajar tatap muka,” pungkasnya. (Parwata/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.