Mahasiswa Poltrada diambil spesimennya oleh petugas. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Politeknik Tranportasi Darat (Poltrada) milik Kementerian Perhubungan menjadi penyumbang kasus terbanyak di Bali dalam 4 hari terakhir. Total hingga Kamis (3/12), jumlah kasus di Poltrada mencapai 238 orang dari 311 mahasiswa yang ada.

Terkait klaster baru ini, Ketua Harian Satgas COVID-19 Bali, Dewa Made Indra mengatakan pihaknya sudah berkoordinasi dengan Sekda Tabanan, I Gede Susila.

Gubernur juga menugaskan Kepala Pelaksana BPBD Provinsi, Made Rentin dan Kadis Kesehatan, dr. Ketut Suarjaya, untuk bertemu langsung dengan Direktur Poltrada, Bambang Wijanarko. “Setelah kami investigasi, kami tanyakan, ternyata penyebabnya adalah karena Kampus Poltrada ini akan memulai kuliah tatap muka. Lalu siswanya kan datang dari berbagai daerah di seluruh Indonesia,” ungkapnya.

Baca juga:  Mete Karangasem Kantongi IG, Sayang Pemkab Belum Kembangkan Secara Serius

Pada saat mendatangkan mahasiswa, lanjut Dewa Indra, pihak kampus sama sekali tidak melakukan koordinasi dengan Satgas COVID-19, baik di tingkat provinsi maupun di tingkat kabupaten Tabanan. Setelah mahasiswa tiba di kampus, baru dilakukan swab test sehingga kedapatan sangat banyak yang terkonfirmasi positif.

Lantaran tidak ada koordinasi, pihaknya juga tidak mengetahui secara persis apakah swab test memang baru dilakukan setelah tatap muka dilaksanakan. Mahasiswa yang berhasil lolos masuk ke Bali kemungkinan hanya membawa hasil rapid test non reaktif.

Sedangkan tingkat akurasi rapid test cenderung rendah bilang dibandingkan swab test. “Itulah yang menyumbangkan angka positif belakangan ini. Kami sudah menegur langsung Direkturnya lewat Pak Sekda (Tabanan), lewat Kalaksa BPBD Provinsi dan Kadis Kesehatan, supaya kedepan tidak boleh lagi terulang hal seperti ini,” terangnya.

Baca juga:  Karena Ini, Moratorium Kapal di Selat Bali Diminta Diberlakukan

Dewa Indra menegaskan, swab test seharusnya dilakukan di daerah asal masing-masing mahasiswa sebelum mendatangkan mereka untuk kembali berkuliah. Mahasiswa yang boleh datang ke kampus hanya yang hasil swab testnya negatif.

Sedangkan yang terkonfirmasi positif seharusnya dikarantina di daerah asal masing-masing. Jangan sampai orang terpapar COVID-19 di daerah lain dibawa ke Bali, dan kasus akhirnya terakumulasi di sini.

Saat ini, Kampus Poltrada sudah diperintahkan untuk lockdown alias tutup. “Jadi mahasiswa yang negatif sudah dikembalikan ke daerah asal. Yang positif masih dikarantina di sana sampai dia negatif, setelah itu pulang,” tegasnya.

Baca juga:  Amati Tanda-tanda Zaman

Dewa Indra melanjutkan, klaster Poltrada juga menjadi peringatan bagi sekolah-sekolah dan kampus-kampus lain di Bali yang akan mendatangkan mahasiswa untuk belajar tatap muka. Satgas mengimbau agar mahasiswa dari luar Bali dites swab terlebih dulu di daerah asalnya.

Hal ini juga berlaku bagi instansi lain, misalnya yang akan menggelar pertemuan dan mendatangkan peserta dari luar daerah. Sebab, efek dari klaster Poltrada tidak saja menyumbang penambahan kasus Covid-19 yang cukup besar yakni hingga 200-an orang. “Kalau ini tidak kita tangani dengan baik, 200an yang positif ini akan menulari orang lain lagi. Jadi ini sangat bahaya,” tandasnya. (Rindra Devita/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.