NI Luh Kartini. (BP/edi)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung selama sembilan bulan tentu harus disikapi oleh semua orang. Dalam hal ini, kita diharapkan agar memaknai dengan mulat sarira atau introspeksi diri.

Menurut Dosen Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Udayana (Unud), Ni Luh Kartini, ada dua permasalahan yang harus disikapi selama pandemi Covid-19. Selain tidak boleh berkerumun, penerapan protokol kesehatan (prokes) juga sangat penting.

Baca juga:  Putus Penyebaran COVID-19 dengan Prokes 3M

Di sisi lain, tentu ini ada keuntungannya untuk alam kita, karena secara tidak langsung hal ini merupakan pesan dari alam. “Tentu ini sebagai akibat atas kesemena-menaan kita terhadap alam. Bagaimana kita memperlakukan alam itu tidak seperti memperlakukan diri kita sendiri,’’ ujar Kartini yang juga pendiri Bali Organic Association ini, Rabu (15/11).

Di Bali, katanya, krama Bali memahami istilah bhuana agung dan bhuana alit. Jika bhuana agung tercemar, tentu bhuana alit juga akan ikut tercemar. Inilah yang terjadi saat ini dan ini merupakan jawaban dari alam yakni Covid-19. “Untuk itu, yang perlu dilakukan sekarang yakni dengan menjaga imun tubuh supaya tetap bagus. Salah satu cara yakni dengan cara mengonsumsi pangan yang sehat dan bebas dari residu perstisida. Tak hanya itu, lebih baik mengonsumsi pangan yang segar, bukan yang sudah diawetkan,” katanya menyarankan.

Baca juga:  Konsumsi Listrik Meningkat, Pelanggan RT dengan Tarif Subsidi Turun

Kartini mengajak petani untuk bercocok tanam secara organik. Selain petani bisa makan makanan yang sehat, konsumen atau masyarakat pembeli juga bisa makan makanan yang sehat. ‘’Itu yang harus dilakukan, karena saat inilah waktunya kita mulat sarira, koreksi diri. Kalau semua bisa melakukan mulat sarira, tentu harapannya Bali bisa segera terbebas dari pandemi Covid-19,’’ katanya. (Yudi Karnaedi/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

Captcha *