Dasi Astawa. (BP/dir)

DENPASAR, BALIPOST.com – Di tengah pandemi Covid-19 ada kebiasaan baru yang dilakukan Kepala LLDikti Wilayah VIII Prof. Dr. Nengah Dasi Astawa, S.E., M.Si. Tiap ada acara wisuda dan melibatkan mahasiswa, dia tak lupa menyumbang lima buku karyanya yang terbaru.

Usai menjadi pembicara pada FGD Covid-19 yang digelar KMB, Rabu (21/10), Prof. Dasi Astawa juga menyumbang buku karyanya untuk perpustakaan Bali Post. Sumbangan buku langsung diterima Pimred Bali Post I Wayan Dira Arsana.

Lima buku ini adalah hasil karya Dasi Astawa selama pandemi Covid-19 sekaligus menginspirasi para dosen dan anak muda agar berkarya dalam kondisi sesulit apa pun. Lima buku tersebut adalah ‘’Strategi Marketing Radikal Tanpa Radikalisme, Pulihkan Bisnis Pasca-Covid-19’’. Kedua, buku ‘’Legacy Pandemi Covid-19 Musibah dan Berkah’’. Ketiga. buku ‘’3-K Kemauan, Kemampuan dan Keberanian’’, selanjutnya buku ‘’Secercah Sinar Lentera di Kegelapan-Bersama Menghadapi Covid’’ dan kelima ‘’Berbisnis dengan 6–M’’.

Baca juga:  WHO : Krisis COVID-19 Belum Akan Berakhir Dalam Waktu Dekat

Dia minta jajaran dosen dan mahasiswa tertantang melahirkan karya buku sebanyak-banyaknya. Bukan dengan cara mengritik isi bukunya, melainkan membuat buku yang melengkapi buku karyanya. Dia menyarankan untuk lebih banyak mengambil sisi baik buku ini. Jangan suka menyalahkan. Itu artinya kita menginvestasi kesalahan dalam diri kita. Lebih baik menginvestasi kebenaran karena jika tak setuju, lebih baik buatkan buku tandingan yang membantah pernyataannya.

Baca juga:  Bupati Giri Prasta Keluarkan 6 Kebijakan Strategis Tangani COVID-19

Selama pandemi Covid-19 ia meminta dosen dan mahasiswa lebih banyak meneliti atau mengambil judul skripsi soal pandemi Covid dari berbagai dimensi, sehingga nanti buku tersebut menjadi legalitas bahwa virus ini benar ada dan menghebohkan dunia.

Masih terkait dengan Covid-19, Prof. Dasi Astawa setuju dengan motto di Bali Post yakni ‘’Aman, Imun dan Iman’’ sama dengan 3M yakni memakai masker, mencuci tangan dan mengatur jarak. Pandemi ini jangan dianggap sebagai musuh agar kita tak merasa cemas, melainkan sebagai sahabat yang harus kita waspadai dan mampu kita kalahkan dengan senjata utama yakni masker. Jadikan pandemi Covid-19 sesuai dengan konsep Tatwam Asi (Kamu adalah Aku), Kamu tak tertular saya juga tak tertular. (Sueca/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.