Areal tambak tradisional di Desa Budeng. Desa melalui kelompok petani tambak menggandeng pihak dari luar berencana mengembangkan kembali lahan-lahan tidur tambak. Foto diambil beberapa waktu lalu. (BP/Olo)

NEGARA, BALIPOST.com – Desa Budeng yang berada di Kecamatan Jembrana hanya memiliki penduduk tergolong sedikit di Kabupaten Jembrana. Namun dengan cakupan areal yang cukup luas, memiliki peluang pertanian dan budidaya perikanan yang menjanjikan. Selain komoditi Jambu Budeng, sejumlah lahan kosong dan tandus dengan air payau dimanfaatkan oleh penduduk sebagai tambak udang dan produk ikan air tawar lainnya.

Dari total lahan di Budeng 352 hektar, hanya sekitar 14 hektar yang dimanfaatkan untuk permukiman. Untuk tanaman Jambu, sekitar 99 persen warga Budeng telah menanam di pekarangan maupun di kebunnya. “Jambu secara ekonomi sangat menjanjikan. Dan setiap panen, masyarakat dapat merasakan hasilnya,” ujar Perbekel Budeng, Putu Libra Setiawan ditemui belum lama ini. Jambu yang dihasilkan dari Budeng ini memang memiliki ciri khas tersendiri. Sehingga dari produk yang unik dan menjadi ciri khas desa itu, tanaman Jambu terus dibudidayakan.

Baca juga:  Lahan Pemkab di Pupuan Jadi Sorotan, Seratusan Hektare Cuma Hasilkan Rp 15 Juta Setahun

Saat ini bahkan banyak warga dari luar Budeng yang ikut menanam bersama warga. Sebab, meskipun dengan bibit tanaman yang sama, Jambu yang dihasilkan tidak sama dengan yang ditanam di Budeng. Diluar itu, lahan kosong yang ada di Budeng cukup luas dan dulunya sebagian besar merupakan rawa-rawa. Tak heran bila Desa ini juga mencakup wilayah hutan mangrove dan tanaman buyuk. “Di sekitar tambak, terhampar tanaman buyuk dan mangrove yang memang dipertahankan. Ada sekitar 66 hektar yang dikelola Kelompok Tani Hutan (KTH) dan 22 hektar lainnya mangrove,” tambah Libra.

Baca juga:  Proyek Underpass Ngurah Rai, Bangunan Terdampak Mulai Dibongkar

Sedangkan untuk tambak, sejak dari awal banyak warga yang mengelola hasil perikanan tetapi dengan kolam-kolam (tambak) tradisional. Dari sekitar 88 hektar lahan tambak, menurutnya hanya sekitar 9,5 hektar tambak yang dikelola secara intensif. Sisanya masih pola tradisional karena keterbatasan modal. Sebagian besar warga yang mengelola tambak tradisional itu kini telah tergabung dalam kelompok-kelompok perikanan budidaya. Beberapa di antaranya ada yang sudah tidak aktif karena kondisi Pandemi sekarang ini.

Kelompok ini menurutnya bukan hanya bergerak dalam budidaya tambak khususnya udang vaname. Tetapi juga berusaha dari sumber bahan produksi perikanan yang ada. Baik itu udang,tiram, mujair dan produk lainnya untuk warung-warung kuliner . Begitu halnya dengan hasil produksi alam seperti buyuk dan mangrove juga dimanfaatkan untuk kerajinan yang memiliki daya beli.

Baca juga:  Disayangkan, Kebutuhan Pariwisata Dipasok dari Luar Bali

Sektor perikanan budidaya saat ini menurutnya juga tengah digalakkan. Lahan-lahan tambak yang lama tidur, diupayakan untuk dihidupkan kembali. Salah satunya adanya suntikan bantuan dari BUMN. “Sudah ada yang mulai berjalan dengan menggandeng kelompok yang sudah ada. Potensi ini dihidupkan lagi tentunya dengan pengelolaan yang lebih modern (intensif),” tandasnya (Surya Dharma/Balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.