Gubernur Bali, Wayan Koster mengunjungi Pasar Gotong Royong Krama Bali, Jumat (7/8). (BP/rin)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pasar Gotong Royong Krama Bali akhirnya dimulai serentak di seluruh Bali, Jumat (7/8). Tujuan utama program yang tertuang dalam Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 15036 Tahun 2020 ini adalah untuk membantu mempercepat pemulihan perekonomian rakyat.

Bahkan sekaligus mengimplementasikan Pergub 99 Tahun 2018 karena pasar gotong royong memfasilitasi pemasaran produk pertanian, perikanan, dan industri lokal masyarakat Bali.

“Ini merupakan bagian daripada ekonomi gotong royong dalam masa pandemi COVID-19,” ujar Gubernur Bali Wayan Koster yang juga Ketua DPD PDIP Bali saat meninjau pasar gotong royong krama Bali di depan Kantor DPD PDIP Bali, Jumat (7/8).

Baca juga:  Tiga Hari Berturut-turut, Denpasar Jadi Penyumbang Terbanyak Kasus COVID-19 Harian

Menurut Koster, pandemi telah membuat perekonomian Bali yang sebagian besar dari sektor pariwisata minus. Hal ini berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat. Kemudian, para petani, nelayan, perajin serta pelaku UKM dan koperasi mengalami kesulitan dalam memasarkan produk atau hasil panennya.

Pasar gotong royong memfasilitasi mereka untuk bertemu langsung dengan pembeli.

“Ini upaya kita untuk membantu para petani, nelayan, perajin, serta pelaku UKM dan koperasi dalam penjualan produknya,” jelas mantan anggota DPR RI ini.

Koster menambahkan, produk yang dijual dalam pasar gotong royong utamanya kebutuhan sehari-hari seperti beras, sayur mayur, ikan, telur dan daging. Artinya, produk-produk itu memang dikonsumsi setiap hari oleh masyarakat.

Baca juga:  Retribusi IMTA di Kabupaten Gianyar Mencapai Miliaran Rupiah

Kelebihan dari pasar gotong royong bagi konsumen, mereka bisa langsung mendapatkan produk segar dari hasil pertanian petani, tangkapan ikan nelayan dan industri lokal lainnya. Selain itu, pembeli juga tidak perlu lagi datang ke pasar tradisional atau swalayan sehingga lebih aman dan tidak perlu berkerumun.

“Harganya pasti lebih murah dan langsung antara petani dengan pembeli, tidak lagi ada tengkulak, atau media usaha lain yang mengakibatkan biaya tinggi, yang justru itu merugikan para petani dan konsumen,” paparnya.

Baca juga:  Dipastikan, Nama Desa Pekraman Diganti Jadi Desa Adat

Pelaksanaan pasar gotong royong, lanjut Koster, juga merupakan respons atas arahan Presiden RI Joko Widodo untuk membangkitkan dan menggunakan produk pertanian, perikanan, serta industri lokal di masing-masing daerah. Itu sebabnya, SE dikeluarkan agar Perangkat Daerah Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota; Instansi Vertikal; BUMN/BUMD; Pihak Swasta, dan kelompok-kelompok masyarakat lainnya menyelenggarakan pasar gotong royong setiap hari Jumat dengan menyasar pembeli para pegawai di instansi tersebut dan masyarakat.

“Ini saya kira akan ikut menjadi upaya dalam rangka memulihkan perekonomian masyarakat kita. Perekonomian Bali sekarang sedang drop karena wisatawan belum ada,” terangnya. (Rindra Devita/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.