Petugas memeriksa suhu tubuh warga setempat yang hendak masuk ke DTW Jatiluwih, Tabanan, Rabu (1/7) kemarin. Menuju kehidupan normal baru, protokol kesehatan wajib dilakukan warga dan wisatawan yang hendak berwisata ke DTW Jatiluwih. (BP/eka)

TABANAN, BALIPOST.com – Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih telah bersiap menyambut kunjungan wisatawan di era baru atau new normal. Persiapan terutama menyangkut penerapan protokol kesehatan di objek wisata di Kecamatan Penebel yang terkenal dengan sistem pertanian tradisional dan terasering ini.

Kepala Divisi Promosi DTW Jatiluwih Putu Eka Saputra yang ditemui di Jatiluwih, Rabu (1/7), mengatakan, pengelola objek wisata telah menyiapkan secara khusus 4 pos pemeriksaan yakni di pos tiket timur, loket informasi, monumen dan pos tiket barat. Tiap pos memiliki fungsi masing-masing, seperti pengecekan suhu tubuh wisatawan, pembagian hand sanitizer, penyuluhan serta wajib masker. “Objek wisata dibuka pukul 08.00 hingga 17.00 Wita,” imbuhnya.

Baca juga:  Kembali, Tambahan Harian Pasien COVID-19 Sembuh Nasional di Atas 3.000 Orang

Pihaknya siap melaksanakan pengawasan dengan ketat. Pengawasan menjadi bagian penting dari operasional, mengingat Jatiluwih berbeda dengan DTW lainnya di Tabanan seperti Tanah Lot dan Ulun Danu Batur. “Di sini banyak pintu masuknya. Jadi, harus lebih ekstra memerlukan pengawasan dan pemberian informasi tentang protokol kesehatan dalam memasuki new normal,” katanya.

Lebih lanjut Saputra menjelaskan, persiapan lain menyambut new normal diantaranya pembagian masker bagi petani yang mengolah lahan di areal DTW Jatiluwih. Sebab, para petani setempat yang jumlahnya 545 orang juga tak luput dari kewajiban menggunakan masker.

Baca juga:  Kabupaten Kebumen Belajar Pengelolaan Pariwisata di Tabanan

Tahapan persiapan buka kembali sudah hampir sepenuhnya rampung. Secara umum, DTW Jatiluwih siap dibuka kembali pada 9 Juli mendatang. “Untuk akomodasi pariwisata yang ada di pinggir jalan umum sudah buka sejak seminggu lalu. Tapi untuk trekking baru akan dibuka 9 Juli nanti,” ujarnya.

Sementara terkait kunjungan wisatawan selama pandemi COVID-19, Saputra mengakui, ada di titik paling rendah. Sebelum COVID-19 melanda, jumlah kunjungan wisatawan pada high season mencapai 800 hingga 1.000 orang per hari.

Baca juga:  Sempat Khawatir, Desa Kedonganan Kembali Gelar Tradisi Mepatung

Pada low season turun menjadi 400 hingga 600 orang per hari. Kunjungan didominasi wisatawan mancanegara asal Eropa. “Sedangkan saat COVID, waktu weekend paling hanya ada 5 orang wisatawan mancanegara yang datang. Sebagian besar wisatawan lokal yang berkunjung. Kita berharap pandemi COVID-19 segera berakhir dan kondisi pariwisata segera pulih,” katanya. (Eka Adhiyasa/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.