Sejumlah pedagang Pasar Umum Galiran melakukan screening COVID-19. (BP/Istimewa)

SEMARAPURA, BALIPOST.com – Klungkung menambah belasan kasus positif COVID-19 per Kamis (25/6). Jumlahnya mencapai 18 orang.

Menurut Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Klungkung, Nyoman Suwirta, hal ini sudah diantisipasi dengan penambahan Ruang Isolasi RSUD Klungkung dan ruang isolasi di hotel oleh pihak Provinsi Bali untuk pasien positif COVID-19 tanpa gejala. Ia mengatakan hasil ini sudah keluar sejak Rabu (24/6) malam.

Penambahan 18 kasus positif COVID-19 ini, membuat pasien positif membludak di RSUD Klungkung. Dari jumlah tersebut, dua di antaranya teridentifikasi merupakan tambahan dari klaster pedagang Pasar Umum Galiran. Keduanya merupakan warga asal Karangasem.

Selain mereka, tiga orang lagi merupakan klaster dari RSUD Klungkung, setelah terpapar dari salah satu perawat yang sempat positif COVID-19. Direktur RSUD Klungkung dr. Nyoman Kesuma, mengaku per Kamis (25/6) laporan sementara hanya ada penambahan enam pasien positif yang dirawat di Ruang Isolasi RSUD Klungkung.

Sehingga, menurutnya kemungkinan sisanya diserahkan ke pihak provinsi, karena kapasitas Ruang Isolasi RSUD Klungkung sudah semakin sesak. “Kalau yang di Ruang Isolasi RSUD Klungkung, diprioritaskan untuk pasien positif yang lansia dan punya penyakit bawaan. Sisanya mungkin diarahkan ke provinsi. Sudah disiapkan tempat karantina di hotel untuk orang positif COVID-19 yang tanpa gejala,” kata dr. Kesuma.

Saat ini kapasitas rumah sakit sudah ditambah hingga mampu menampung maksimal 60 pasien positif. Dia menegaskan, penambahan kapasitas ruang isolasi tidak akan mengganggu situasi pasien diluar COVID-19 atau pun pengunjung yang lainnya. “Kepada masyarakat jangan khawatir, proteksi yang dibuat ini sudah susuai protapnya sehingga tidak berbaur dengan dengan yang lainnya,” tandasnya

Dia menambahkan untuk pelayanan pasien rawat jalan pihak RSUD sudah menyiapkan dua ruang screening, yakni screening untuk pasien anak dan dewasa serta untuk pasien lansia dan sulinggih. “Proses sreening ini untuk menanyakan pasien serta pengantar dengan check list keterkaitan dengan COVID-19. Seperti kontak dengan pasien positif maupun daerah tempat tinggal di lingkungan transmisi lokal yang tinggi. Setelah lolos dari proses screening baru diperbolehkan mendaftar di loket serta mengambil rekam medik,” tegas Kesuma. (Bagiarta/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.