Proses pembibitan terong dan timun sebelum dipindahkan ke lahan yang lebih luas. (BP/May)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pandemi Covid-19, telah mengubah budaya dan gaya hidup masyarakat. Satu hal yang menarik terjadi di Bali adalah masyarakat mulai kembali ke pertanian ketika sektor yang selama ini mereka geluti habis terimbas Covid-19.

Anak Agung Made Yogantara Deanta, petani muda asal Sanur yang semula bekerja di hotel, kini lebih banyak mengisi waktu dengan berkebun di lahan miliki keluarganya di Jalan Danau Tempe.

Bersama keluarga besar yang lain yang jumlahnya 37 orang (7KK), ia memulai pekerjaan berkebun di lahan seluas 70 are tersebut. Rata – rata bernasib sama yaitu dirumahkan karena kondisi pandemi.

Ada yang manager restaurant, bekerja di transportasi pariwisata, dan sektor pariwisata yang lain. Mereka menggarap lahan milik keluarga yang awalnya terbengkelai, ditumbuhi semak belukar kemudian ditanami berbagai jenis hortikultura yaitu, sayur hijau, sawi, bayam merah, bayam hijau, terong, jagung, pokcoy, dll.

Baca juga:  Jadwal PKB, Rabu 11 Juli

Kegiatan berkebun yang baru pertama kali dilakukan tersebut baginya sangat menyenangkan di tengah kejenuhan tinggal di rumah. “Banyak semeton yang dirumahkan, karena Covid ini tidak tahu selesainya kapan, daripada kita berdiam diri, lebih baik kita melakukan sesuatu,” ujarnya.

Bertani organik yang dilakoni cukup mudah, hanya saja masalah gulma yang tumbuh di sekitar tanaman, menjadi perhatiannya. Lantaran tanah berjenis rawa – rawa tersebut sangat subur ditanami tanaman hortikultura, termasuk gulma. Apalagi pertanian organik, sangat memungkinkan gulma tumbuh.

Disana ia juga mengembangkan pembibitan hortikultura seperti terong bulat dan timun. Prosesnya mulai dari perkecambahan selama tiga hari, kemudian dipindahkan ke polibag selama 2 minggu. “Baru kemudian dipindah ke media tanah yang lebih luas,” tuturnya.

Baca juga:  Sepi Order, Pembuat Sarana Upacara Beralih Buat Layang-layang

Hasil dari berkebun hortikultura tersebut, dibagi – bagikan ke keluarga. Kelebihannya dijual. Menurutnya pemasarannya cukup mudah karena ketika ia mengunggah di sosial media, responnya positif.

Kegiatan bertani tersebut didampingi oleh dosen pertanian Universitas Udayana Ni Wayan Sri Sutari, S.P., M.P., yang juga warga Sanur. Kedekatan dengan pemilik lahan dan semua keluarganya, membuat dirinya menjadi orang yang paling dicari ketika sektor selain pertanian tidak berkutik. Ia pun memberi dorongan dan motivasi untuk berkebun.

“Karena saya konsisten di pertanian perkotaan, keluarga besar mereka menelepon untuk bertanya tentang kemungkinan lahan di Jalan Danau Tempe untuk ditanami tanaman. Kebetulan saya menggaungkan urban farming dan pertanian organik di perkotaan,” ungkapnya.

Baca juga:  Pascalongsor Rumah Oktara, Tetangga Ngungsi

Minggu pertama sejak pengolahan lahan, di minggu pertama bibit tumbuh dengan begitu cepat karena kondisi tanah subur, ditambah kondisi dan cuaca yang mendukung. “Kebetulan di daerah Sanur masih sedikit yang berkebun untuk tanaman hortikultura. Saya memotivasi mereka semangat biar jadi yang pertama menggarap anak muda. Mereka berpikir untuk diseriuskan selama pandemi. Ternyata banyak respon positif masuk,” tuturnya.

Ia berpikir pertanian perkotaan cukup menjanjikan apalagi ini memang digarap 100 persen organik. Dengan melihat hasil yang bagus di awal berkebun, membuat petani muda yang ia bina senang dan ketagihan berkebun.(Citta Maya/Balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.