Pengelola Rumah Kompos Taro, I Wayan Wardika menunjukan produksi pupuk organiknya. (BP/Nik)

GIANYAR, BALIPOST.com – Di tengah situasi pandemi COVID- 19, masyarakat mulai ramai berkebun, bercocok tanam hingga bertani. Hal ini diketahui dari tingginya permintaan pupuk kompos. Kondisi ini diakui I Wayan Wardika Pengelola Rumah Kompos Taro di Banjar Taro Kaja, Desa Taro, Kecamatan Tegallalang Kamis (21/5).

Wardika mengakui pihaknya mengalami peningkatan pesanan pupuk kompos. Diungkapkan dalam kurun waktu 2 bulan terakhir sudah memproduksi dan mendistribusikan sekitar 2,5 ton pupuk organik. “Sekarang saya sedang memproduksi 1 ton 700 kg pupuk organik yang telah dipesan oleh masyarakat, ” kata pria yang dulunya bekerja di kapal pesiar ini.

Diungkapkan pemesanan pupuk tidak saja dari seputaran Kabupaten Gianyar, namun juga dari Denpasar dan Badung. Tingginya peminat pupuk organik, diakui merupakan hasil dari rutinitasnya memilah dan mengumpulkan sampah organik se Desa Taro untuk diolah. “Ketika hampir 2 tahun saya kumpulkan atau memilah sampah organic di Rumah Kompos Taro, akhirnya sekarang bermanfaat. Dimana banyak orang ingin berkebun mengisi waktu dengan bercocok tanam,” katanya.

Melayani permintaan di daerah Denpasar dan Badung, Wardika menitip sejumlah pupuk di kawasan Desa Batubulan, Kecamatan Sukawati dan di Yayasan Lengis Hijau Denpasar. “Kebetulan kami ada komunitas, permintaan banyak dari mereka, selebihnya dari masyarakat umum yang lihat postingan saya di facebook,” ungkapnya.

Bapak dua anak ini menjelaskan bahwa pupuk organik yang diproduksi memiliki nutrisi yang baik untuk tanaman maupun tanah. Wardika memiliki bahan untuk dijadikan pupuk organik berupa kompos. Tapi dari sisa bahan itu saja, dirasa belumlah cukup untuk melengkapi nutrisi tanaman.

Maka itu, Wardika menyempurnakan lagi dengan menambahkan unsur-unsur supaya bermanfaat untuk tanaman maupun tanah. “Saya belajar dari Bapak Ketut Punia penggiat pertanian organik dari Desa Batubulan. Beliau yang memberikan formulasi,” jelasnya.

Dijabarkan formula pupuk kompos yang ia racik, terdiri dari kompos ditambahkan dengan kotoran kambing, abu sekam, daun bambu, dan jamur hayati. “Daun bambu sangat baik untuk akar tanaman, jamur hayati untuk asupan tedikoderma. Jadi kelima unsur ini sangat dibutuhkan oleh tanaman maupun tanah untuk bercocok tanam organik,” jelasnya.

Kedepan, Wardika bercita-cita mengolah kompos menjadi pupuk organic dengan bantuan peralatan. Sebab saat ini, diakui proses pembuatan masih manual, sebab itu dalam proses pengerjaan diakui membutuhkan tenaga ekstra. “Adanya mesin akan sangat membantu, tapi terus terang saat ini saya belum bisa. Sementara sekarang baru ada mesin pencacah donasi Rotary Club. Ke depan saya perlu mesin pengayak, dan pengaduk semacam molen. Suatu saat tyang akan mampu mengupayakan, apakah dari hasil menabung atau donatur yang berkenan mensuport usaha ini,” ujarnya.

Wardika mengaku dalam proses produksi pupuk organik ini pihaknya tidak mengejar profit semata. Melainkan salah satu upaya menumbuhkan kesadaran masyarakat, khususnya di Desa Taro, untuk memilah sampah. “Bahwa kita edukasi masyarakat, ajak memilah sampah dari sumber. Karena saya mampu buktikan, ketika sampah terpilah dengan baik, bahan yang biasanya banyak terbuang bisa bernilai guna,” tandasnya. (Manik Astajaya/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.