Anders Tegnell. (BP/AFP)

STOCKHOLM, BALIPOST.com – Swedia memberlakukan pembatasan yang relatif lebih lunak dibandingkan negara-negara di Eropa lainnya. Namun, kebijakan pembatasan kegiatan warga itu, dikutip dari AFP, diputuskan diperpanjang untuk memerangi COVID-19.

Perdana Menteri Swedia, Stefan Lofven, mengatakan upaya memerangi COVID-19 harus dilakukan secara marathon. Di saat masyarakat di negara-negara Eropa lainnya sudah mulai bekerja di kantor, warga Swedia juga disarankan untuk terus bekerja dari rumah, bahkan kemungkinan berlangsung hingga berbulan-bulan ke depan.

Uni Eropa telah mulai merencanakan diizinkannya warga bepergian pada musim panas ini. Namun Swedia menyatakan kepada warganya bahwa mereka harus berlibur di rumah. Memperpanjang larangan untuk bepergian untuk alasan yang tidak penting hingga 15 Juli.
Other restrictions on travel, sport and care-home visits are also likely to remain in place even while other countries try to re-emerge from lockdowns.

Baca juga:
Warga Tionghoa Buleleng Serahkan Bantuan Penanganan COVID-19

Meski masih memberlakukan pembatasan, Swedia tidak pernah menerapkan karantina wilayah. Anak-anak yang berumur di bawah 16 masih bersekolah. Warga juga tidak diminta berhenti pergi ke cafe, bar, dan restoran.

Meski warga diminta membatasi kontak dan mempraktekkan jaga jarak sosial, pembatasan itu sifatnya imbauan.

“Sangat mudah memberlakukan karantina wilayah, namun menghentikannya jauh lebih susah,” kata Pakar Epidemiologi dari Badan Kesehatan Publik Swedia, Anders Tegnell.

Baca juga:
Pasien Positif COVID-19 Sembuh di Bali Kembali Bertambah, Tingkat Kesembuhan Lampaui 71 Persen

Ia menekankan sulitnya masyarakat untuk mengikuti rekomendasi ketika pada suatu hari mereka harus melakukannya namun di saat yang lain harus melakukan hal yang berbeda.

Beberapa orang menuduh Swedia mempermaikan nyawa warganya dengan memberikan kesempatan virus berada di masyarakat, dengan tujuan utama memastikan sistem layanan kesehatannya tidak kewalahan.

Tak goyah dengan kritik yang dilontarkan, Tegnell mengatakan masih terlalu dini mengatakan apakah fase pembatasan yang dilakukan Swedia, seperti yang dilakukan di negara-negara tetangganya, akan bisa membatasi tingkat kematian.

Baca juga:
Tambahan Kasus Baru Positif COVID-19 di Bali, Transmisi Lokalnya Capai 70 Persen

Namun ia menilai gelombang kedua dari virus ini akan memiliki pengaruh yang lebih sedikit bagi Swedia dibandingkan negara-negara lain yang memberlakukan karantina wilayah. “Saya pikir, strategi Swedia telah terbukti lebih berkelanjutan. Kami mendapatkan bahwa masyarakat kini meningkatkan kesadaran mereka terhadap imbauan, bukannya turun,” kata Tegnell. (Diah Dewi/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.