Seorang pria menggunakan masker berjalan di salah satu mal di Beijing pada 5 Maret. (BP/AFP)

BEIJING, BALIPOST.com – Tiongkok melaporkan tidak ada kasus baru COVID-19 selama tiga hari berturut-turut pada Sabtu (21/3) waktu setempat. Namun, dilaporkan adanya kenaikan infeksi COVID-19 yang merupakan imported case.

Dikutip dari AFP, jumlah infeksi COVID-19 mengalami perlambatan dalam seminggu terakhir. Sementara itu, di seluruh dunia, jumlah kasusnya mengalami peningkatan signifikan.

World Health Organization (WHO) pada Jumat memuji kesuksesan Tiongkok dalam mengontrol outbreak di Wuhan, tempat virus itu pertama kali terdeteksi. “Wuhan menciptakan harapan bagi seluruh dunia, bahwa situasi terburuk pun bisa diatasi,” kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi virtual di Jenewa.

Baca juga:  Peran Satgas COVID-19 di Desa Adat Harus Dimaksimalkan

Sebanyak 56 juta orang di Wuhan serta Provinsi Hubei diisolasi pada akhir Januari. Namun, pemerintah setempat kemudian secara progresif melakukan pembukaan akses seiring menurunnya jumlah kasus.

Meningkatnya kasus dari luar negeri Tiongkok, membuat pemerintahnya melakukan sejumlah kebijakan. Dilaporkan tambahan kasus COVID-19 positif di Tiongkok yang merupakan imported case pada Sabtu (21/3).

Secara akumulatif, terdapat 269 kasus di Tiongkok merupakan imported case. Beijing dan kawasan lain di Tiongkok memaksa seluruh penumpang pesawat kedatangan internasional menjalani karantina 14 hari. Sementara itu, Kementerian Transportasi Udara Tiongkok mengatakan akan membatasi jumlah pesawat di rute internasional.

Baca juga:  Sri Mulyani Tetap Jabat Menkeu

Setidaknya ada 81 ribu kasus di Tiongkok, menurut Komisi Kesehatan, masih sekitar 6.013 kasus yang dirawat. Jumlah kematian menurun drastis dengan 7 kematian dilaporkan pada Sabtu (21/3), seluruhnya di Provinsi Hubei.

Krisis ini bergeser ke Eropa dan Asia. Dengan Italia mengambil alih jumlah kematian yang saat ini mencapai 4.000 kasus, sementara Tiongkok melaporkan 3.255 kematian.

Outbreak ini telah menginfeksi 250 ribu orang di seluruh dunia, dengan jumlah kematian mencapai 11 ribu orang. (Diah Dewi/balipost)

BAGIKAN