Wisatawan berkunjung ke Angel Billabong, Nusa Penida. (BP/dok)

SEMARAPURA, BALIPOST.com – Merebaknya wabah virus corona (COVID-19) berdampak luas pada aktivitas pariwisata di daerah kepulauan Nusa Penida. Ini membuat tingkat kunjungan wisatawan mancanegara menurun.

Meski kunjungan menurun, isu corona ini tidak berdampak signifikan terhadap pemakaian listrik rumah tangga, hotel maupun restoran di daerah pariwisata ini. Karena isu virus corona hanya memberi dampak pada wisatawan Tiongkok.

Sementara, kegiatan wisatawan Tiongkok juga mayoritas tidak menginap di Nusa Penida. Manajer PLN ULP Klungkung Komang Tria, Jumat (6/3) mengatakan wabah virus corona tidak mempengaruhi pemakaian maupun penjualan listrik.

Pemakaian listrik tetap tinggi di Nusa Penida. Bahkan, sepanjang tahun 2019, pemakaian listrik di Nusa Penida mencatat pertumbuhan cukup tinggi, mencapai 26 persen. “Wisatawan Tiongkok itu, kunjungannya ke Nusa Penida sifatnya temporary (sementara, red). Datang pagi berwisata sampai siang, sorenya sudah balik ke Sanur. Jadi tidak menginap di Nusa Penida,” kata Tria.

Baca juga:  Retribusi Kunjungan Wisatawan ke Nusa Penida Diberlakukan, Target Rp 18 Miliar Optimis Bisa Dicapai

Kalau pun dilihat dari aktivitas pariwisatanya, mayoritas wisatawan Tiongkok dominan menggunakan wahana water sport yang tidak menggunakan listrik. Tetapi dominan menggunakan bahan bakar.

Wisatawan yang langsung menginap dan menambah hunian di Nusa Penida, dikatakan lebih banyak Aussie (wisatawan Australia) dan wisatawan mancanegara dari Eropa. “Pemakaian listrik tertinggi di Nusa Penida, dari Hotel Mahagiri. Pemakaiannya bisa mencapai setengah mega. Kami lihat secara umum pemakaiannya masih tinggi di daerah tiga pulau Nusa Penida itu,” tegasnya.

Baca juga:  Kerumunan Pedagang di Kawasan Jalan Sulawesi Ditertibkan

Manajer Jaringan PLN ULP Bali Timur, Nyoman Sugiarta menambahkan, wilayah kepulauan Nusa Penida sudah terpasang 11,9 MW. Dari jumlah itu sudah mampu melayani kebutuhan listrik sebesar 10,7 MW.

Secara umum ULP Klungkung memiliki 6 suplay penyulang, dengan jumlah pelanggan sebanyak 61.681 orang dari total 403.290 pelanggan se Bali Timur. “Dalam bidang jaringan, kendala itu juga pasti ada. Selain bencana alam, kelompok kendala paling besar itu ada pada padam tak terencana. Itu mencapai 79,58 persen. Misalnya, jaringan putus karena binatang,
kena petir, tertimpa pohon, terbuka karena penjor dan sebagainya,” katanya.

Baca juga:  Sekda Dewa Indra Imbau Masyarakat Tak Diskriminatif Sikapi Penyebaran COVID-19

Sementara, Manajer Pemasaran PLN ULP Bali Timur, Oscar Praditya, mengatakan khusus untuk ULP Klungkung, penjualan tenaga listrik data per Pebruari 2020 mencapai 22.004.101 kwh, naik sebesar 16,92 persen dari Februari 2019 yang hanya 18.819.492 kwh. Sedangkan pendapatan juga naik.

Pada Februari 2020 sudah mencapai Rp 26.665. 493.398, naik sebesar 19,04 persen dari bulan Pebruari 2019 yang hanya Rp 22.400.027.829. “Saat ini kami juga sedang menuntaskan permasalahan levering dan overspanning. Untuk menekan risiko bahaya kelistrikan,” katanya. (Bagiarta/balipost)

BAGIKAN