DENPASAR, BALIPOST.com – Nongkrong di cafe bahkan menjadikan cafe sebagai markas (base) berkumpulnya remaja tak melulu soal konsumerisme yang makin meningkat. Sebab, ada sisi positif yang bisa diambil dari tren yang terjadi di kalangan remaja milenial ini.

Salah satunya, menurut pengamat budaya populer, Rudolf Dethu, Sabtu (22/2), kafe terus bermunculan dan menggerakkan perekonomian kreatif. Menurut Co-Director Rumah Sanur ini, cafe (bukan cafe remang-remang, red) merupakan tempat belajar berinteraksi, bertemu orang-orang baru, ajang memperluas lingkup pergaulan, melatih kepekaan diri sebagai manusia yang notabene adalah mahluk sosial.

Baca juga:  Konsep "Green Growth" untuk Pengelolaan Pariwisata Bali

Dari interaksi tersebut terjadi diskusi yang bukan tak mungkin berlanjut menjadi kolaborasi untuk melahirkan sesuatu yang baru. Mulai dari munculnya kelompok belajar, menggagas proyek kreatif, membuat acara kesenian, dan sebagainya.

“Saya sendiri mengelola creative hub yang di dalamnya ada cafe. Yang saya lihat langsung justru munculnya proyek-proyek kreatif baru setelah satu sama lain berinteraksi, ” jelasnya.

Selain itu, belum lagi munculnya kecintaan pada produk anak negeri. Salah satunya kopi lokal. Apresiasi pada buatan dalam negeri akan berdampak jangka panjang pada geliat ekonomi nan dinamis terhadap para petani kopi.

Baca juga:  Orangtua Siswa Mengadu ke Posko PPDB Ombudsman

Saat ini, secara tidak langsung tren ke kafe (warung kopi modern) ini bisa mengikis kekhawatiran para orang tua bahwa anak-anaknya lebih memilih minum kopi dan teh dibanding minuman keras, jelasnya.

Sementara terkait dengan yang membuat para remaja betah nongkrong di kafe, faktor utamanya adalah orang-orang yang hadir di situ. “Atmosfer kafenya, baru kemudian produknya,” katanya. (Agung Dharmada/balipost)

BAGIKAN