Ilustrasi. (BP/dok)

SEMARAPURA, BALIPOST.com – Kasus HIV/AIDS semakin mengkhawatirkan. Dinas Kesehatan terus memantau potensi kasus dan mengupayakan berbagai upaya pencegahan.

Kepala Dinas Kesehatan Klungkung, dr. Ni Made Adi Suapatni, Minggu (9/2), mengatakan akan membentuk Puskesmas Satelit, agar penderita HIV/AIDS dapat ditangani langsung ke Puskesmas, khususnya di Kecamatan Nusa Penida. Ia mengatakan pada 2019 sudah terjadi 44 kasus.

Jumlah ini sudah sempat turun dari 2018 sebanyak 53 kasus. Sedangkan 2017 sebanyak 36 kasus, 2016 sebanyak 15 kasus dan 2015 sebanyak 50 kasus. Untuk mengintensifkan penanganan kasus ini, Dinas Kesehatan juga berupaya melakukan mendekatkan pelayanan.

Ini terlihat dari aktivitas penderita HIV/AIDS yang mulai memilih berobat di RSUD Klungkung, dari sebelumnya di RSUP Sanglah, RS Wangaya atau di YKP. Tercatat sudah ada 87 orang penderita yang sudah sempat dilayani di RSUD Klungkung sepanjang 2019, RSUD Klungkung sebagai RS Pengampu.

Adi Suapatni menambahkan, pihaknya tetap melakukan berbagai upaya untuk menanggulangi HIV/Aids. Seperti promosi kesehatan, mengajak masyarakat menerapkan pola hidup sehat. Melakukan upaya pencegahan penularan, dengan memaksimalkan peran petugas kesehatan hingga ke tingkat desa.

Selain itu juga melakukan pemeriksaan dan penegakan diagnosa, pengobatan dan perawatan hingga dukungan rehabilitasi. “Kami selalu berbagi tugas dengan KPA Klungkung, agar sasaran penanganan semakin tepat sasaran. Karena terkadang penderita HIV/AIDS tidak mau terbuka. Itu sulitnya,” katanya.

Selain tidak sulit terbuka, Dinas Kesehatan juga terkendala pada rendahnya penemuan kasus sejak dini. Ada perilaku masyarakat, khususnya penderita yang menolak diperiksa atau diobati, karena stigma negatif soal HIV/AIDS. Kesiapan fasilitas pelayanan dalam pengobatan juga menjadi kendala tersendiri.

Melihat berbagai kendala itu, Dinas Kesehatan terus melakukan peningkatan kualitas konselor. Kemudian, mempercepat proses menjadikan RSUD Klungkung sebagai pengampu ARV. Hingga memperbanyak Puskesmas Satelit dalam pengobatan ARV itu sendiri. “Sementara baru dua di Kecamatan Nusa Penida kami rencanakan membentuk Puskesmas Satelit. Yakni di Puskesmas Nusa Penida I dan II. Sehingga yang di wilayah kepulauan, langsung bisa konsultasi dan ditangani di sana,” tegasnya.

Untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS ini semakin meluas, maka perlu pengelolaan program penanganan yang sinergi. Tujuannya, agar mampu menemukan kasus atau penderita sejak dini.

Dari sisi penanganan kesehatan, semakin cepat penderitanya ditemukan dan ditangani sejak dini, maka resiko penularan semakin rendah. (Bagiarta/balipost)

BAGIKAN