Suasana di Pura Luhur Batukau. (BP/ara)

TABANAN, BALIPOST.com – Sejak beberapa bulan lalu, krama pangempon Pura Luhur Batukau di Desa Wongaya Gede, telah mempersiapkan Karya Agung Pengurip Gumi. Kegiatan ini digelar berkat pawisik atau pawuwus dari Ida Bhatara yang berstana di pura ini. Bahkan, hari ini akan digelar upacara melasti ke segara Tanah Lot dengan berjalan kaki. Lalu, bagimana sejarah pura ini?

Pura Luhur Batukaru merupakan salah satu pura Sad Kahyangan atau tempat pemujaan seluruh umat Hindu. Secara administrasi letak pura ini terdapat di Desa Wongaya Gede, Penebal, Tabanan. Posisi pura yang berada di ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut dengan dikelilingi hutan lebat, membuat lingkungan pura ini berhawa sejuk.

Baca juga:  Karya Agung Pengurip Gumi untuk "Kerahayuan Jagat”

Pura ini berfungsi sebagai tempat pemujaan Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Dewa Mahadewa. Dalam beberapa lontar juga disebutkan Pura Luhur Batukaru juga sebagai stana Hyang Tumuwuh.

Upacara piodalan/pujawali yang berlangsung setiap enam bulan sekali atau setiap 210 hari, yakni Kamis, Umanis, Dungulan (umanis Galungan) dan selama piodalan Ida Bhatara nyejer hingga tiga hari. Tetapi umat yang pedek tangkil ke pura berhawa sejuk ini sudah mulai padat sehari sebelum puncak pujawali atau pada hari Raya Galungan.

Pura ini diempon oleh delapan desa adat di sekitarnya, seperti Desa Pakraman Wongaya Gede (empat Banjar Adat Wongaya Bendul, Wongaya Kaja, Wongaya Kelod, dan Wongaya Kangin), Desa Adat Keloncing, Bengkel, Sandan, Amplas, Batukambing, Desa Pakraman Tengkudak (Banjar Tengkudak dan Denuma), serta Desa Adat Penganggahan.

Baca juga:  Ikuti Prokes Cegah COVID-19, Pujawali di Pura Luhur Batukau Hanya Dilakukan di Desa Adat Pekandelan

Kapan berdirinya dan siapa yang membangun Pura Luhur Batukau, sampai saat ini belum diperoleh data secara pasti. Pasalnya, sumber-sumber tertulis tentang berdirinya pura ini sangat minim. Karena itu, untuk menentukan kapan berdirinya pura ini hanya bisa menggunakan sumber-sumber tak tertulis, seperti keberadaan arca, candi, dan patung-patung kuno yang ditemukan di pura ini.

Ketut Soebandi dalam buku Sejarah Pembangunan Pura-pura di Bali menyebutkan sejarah berdirinya pura ini terlintas tertulis di sejumlah babad, seperti Babad Pasek, Usana Bali, Babad Pasek Toj Jiwa, serta Babad Buleleng. Sedangkan sumber lainnya juga menyebutkan keberadaan Pura Luhur Batukau ini juga tertulis pada lontar lainnya, seperti Raja Purana Gajah Mada, Padma Bhuwana, Kusuma Dewa, Sang Kulputih, Babad Pasek Kayu Selem, Widisastra, serta sumber sastra suci lainnya.

Baca juga:  Hari Keempat, Melasti Dilanjutkan ke Pura Luhur Batukau

Mencermati berbagai temuan dan peninggalan yang ada di pura itu, merupakan peninggalan periode Bali kuno sekitar abad X sampai XII. Berlatar belakang sumber-sumber itu, bisa dipastikan pembangunan Pura Luhur Batukau ini dilakukan pada abad XI.

Berdasarkan data epigrafis tersebut, dapat memberikan petunjuk bahwa Pura Luhur Batukau dibangun pada zaman pemerintahan Raja Cri Masula-Masuli berkuasa di Bali, tulis Ketut Soebandi (alm) dalam bukunya. (Asmara Putera/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.