Petugas mengevakuasi mayat orok yang ditemukan di parit. (BP/dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – Sepanjang 2019, Kamar Jenazah RSUP Sanglah menerima sejumlah jenazah bayi. Mayoritas adalah korban infanticide atau pembunuhan bayi oleh ibu segera setelah dilahirkan.

Dari data Kamar Jenazah RSUP Sanglah sebanyak 9 jenazah ditangani selama 2019. Lima diantaranya korban pembunuhan oleh ibu segera setelah dilahirkan. Sebanyak 2 kasus di antaranya berhasil ditangkap pelakunya.

Ketua KSM Kedokteran Forensik RSUP Sanglah dr. I.B. Putu Alit, Sp.FM (K) DFM, Selasa (21/1), mengatakan selain kasus infanticide juga ada karena abortus dan tidak diketahui penyebabnya karena sudah membusuk. “Bayi yang ditemukan meninggal karena abortus diketahui dari hasil pemeriksaan, di mana usia bayi di bawah 38 minggu atau prematur,” ujar Alit.

Baca juga:  Kasus Persetubuhan Anak Didik Mulai Disidangkan

Mengenai kasus infanticide, menurut Alit, diketahui dengan berbagai rangkaian pemeriksaan. Pertama, ditentukan usia kelahiran bayi, apakah lahir cukup usia kandungan atau prematur. ”Kalau cukup usia kandungan artinya bayi bisa hidup di luar rahim. Usia kandungan yang cukup ini di rentang 38 minggu-40 minggu. Jika di bawah 38 minggu disebut prematur,’’ ujar Alit.

Setelahnya, dipastikan jika bayi lahir hidup setelah dilahirkan kemudian dicari tanda-tanda luka atau kekerasan yang menyebabkan bayi meninggal. Dari 5 bayi yang masuk dalam kasus infanticide, semuanya meninggal karena dibekap.

Baca juga:  RSUP Sanglah Terus Lakukan Inovasi, Dilombakan Antar-Instalasi

Cara ini refleks dilakukan ibu untuk mencegah bayinya menangis. ”Pada umumnya ibu takut ketahuan sehingga mereka membekap bayinya agar tidak menangis,” jelas Alit.

Dari kasus pembuangan bayi yang diterima Kamar Jenazah RSUP Sanglah ini diakui Alit, agak sulit diketahui pelakunya. Sebab lokasi pembuangan bukanlah TKP pertama. Atau terkadang ibu menyembunyikan jasad bayinya selama beberapa waktu dan kemudian membuangnya sehingga ditemukan sudah dalam kondisi membusuk dan sulit diidentifikasi. (Wira Sanjiwani/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.