Posko
Kadis Kesehatan Provinsi Bali dr. Ketut Suarjaya, MPPM. (BP/dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pemerintah Provinsi Bali menyiapkan 60.000 vial Vaksin Anti-Rabies (VAR) untuk menangani kasus gigitan anjing positif rabies pada manusia tahun 2020. Pemenuhan VAR ini dibagi oleh pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali dr. Ketut Suarjaya, Rabu (8/1), menyatakan, sepanjang tahun 2019 lalu tidak ditemukan kasus positif rabies pada manusia. Yang ada kasus positif pada anjing. Karenanya, diperlukan kesiapan penanganan dengan pemenuhan VAR dan SAR (Serum Anti-Rabies).

Baca juga:  Penutupan Arus Lalin di Panjer Cegah Penyebaran COVID-19, Catat Rute dan Jamnya

Menurutnya, pemenuhan VAR ini sudah dihitung sesuai jumlah kasus gigitan anjing per hari. Saat ini rata-rata jumlah kasus gigitan di Bali 80-85 per hari. Dari jumlah ini, tidak semua diberikan VAR karena pemberiannya selektif.

Pemberikan VAR hanya pada kasus gigitan yang ada hasil pemeriksaan laboratorium, anjing yang menggigit mati saat observasi atau tidak diketahui keberadaannya setelah menggigit. Selain itu, posisi luka dan kedalaman luka juga menjadi pertimbangan. Seperti luka yang dekat dengan kepala, lebih dari satu atau luka gigitan yang banyak dan dalam.

Baca juga:  IHPS Semester II, Ini Hasil Penilaian BPK untuk Bali

Selain menyiapkan VAR, penanganan kasus rabies pada manusia juga menerapkan manajemen luka yang baik. Tidak hanya diterapkan di layanan kesehatan tetapi juga disosialisasikan ke masyarakat.

Manajemen luka gigitan adalah mencuci dengan sabun dan air mengalir segera saat tergigit. Setelahnya barulah dibawa ke layanan kesehatan terdekat untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Fungsi manajemen luka ini adalah menekan jumlah virus yang masuk ke dalam tubuh. Terlebih jika anjing yang menggigit positif rabies.

Baca juga:  "Good Governance" Perguruan Tinggi

”Saat luka, sebagian besar virus dianggap masih berada di luar tubuh. Jika dicuci dengan sabun dan air mengalir, akan mengurangi jumlah virus yang masuk ke dalam tubuh. Virus rentan terhadap pencucian dengan sabun,” jelas Suarjaya. (Wira Sanjiwani/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.