Seorang lanjut usia (lansia), Wayan Kerayupan di depan rumah gedeknya. (BP/dok)
SINGARAJA, BALIPOST.com – Hidup warga Banjar Insakan, Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, tak semuanya berkecukupan. Wayan Kerayupan dan Ni Riri merupakan contohnya.

Keduanya yang tinggal sebatang kara di rumah masing-masing, kondisinya sangat memprihatinkan. Di tengah usia yang sudah tua, keduanya harus tinggal di sebuah rumah tua yang hanya berdinding gedek lapuk. Guna bertahan hidup, lebih sering mengandalkan belas kasihan kerabat.

Saat dikunjungi, Senin (24/4) siang, rumah Kerayupan berada di tengah-tengah perkebunan cengkeh. Suasananya sangat sepi. Di sekitarnya hanya ada dua rumah. Itu pun tempatnya tidak dalam satu deretan. Masih dibatasi oleh sepetak tanah.

Menginjak halaman rumahnya, hati langsung terasa miris. Kakek ini hanya tinggal sebatang kara di rumah yang hanya berdinding gedek lapuk dan berlantai tanah. Di dalamnya sama sekali tak terlihat barang mewah.

Baca juga:  Tak Tepat Sasaran, Banyak Penerima KIS Bukan Warga Miskin
Tempat tidurnya hanya dibalut kasur tipis yang sudah layu dengan sprei berwarna hijau dan selimut merah tipis. Hanya itu penghangat tubuhnya yang kini telah berkulit keriput.

Pergi Selamanya

Sembari duduk di teras rumahnya, kakek 77 tahun ini tak sungkan membagi cerita hidupnya. Sekitar enam bulan lalu, istrinya telah pergi untuk selamanya. Seorang anak perempuannya juga sudah menikah. “Tiang padidian dini ngoyong. Panake makejang suba nganten (saya hanya tinggal sendirian di sini. Anak seluruhnya sudah menikah, red),” tuturnya.

Kini, di usianya yang tak lagi muda, suami Wayan Diasning ini hanya menggantungkan hidup dari belas kasihan kerabatnya, terutama dalam urusan isi perut. Anak perempuannya, sejatinya masih memberikan perhatian. Tetapi itu tidak bisa setiap hari. “Yen ngelah baas, ngae tepeng. Yen sing, ponakane ngemaang ngidih. Yen panake nu inget ngajak ke dokter yen sakit (kalau punya beras, masak nasi. Kalau tidak, ponakan yang memberi. Kalau anak, masih ingat mengajak ke dokter kalau sakit, red),” ucapnya.

Di tengah hidupnya yang terbilang pahit, dari wajahnya masih terlihat tegar. Tak jarang ia masih bisa bercanda gurau dengan orang yang datang ke rumahnya.

Selain Kerayupan, kondisi serupa juga dialami Ni Riri, yang juga warga Banjar Insakan. Janda tua ini juga menghabiskan waktu istirahatnya di rumah berdinding gedek.

Berdasarkan ceritanya, ia sejatinya sudah sempat menikah. Namun, setelah suaminya meninggal, ia dikembalikan lagi ke keluarganya oleh anak tirinya. Dalam urusan menyambung hidup juga terpaksa harus bergantung dengan keluarganya. “Tiang ditu sing ngelah panak. Suud kurnane mati, uliange mulih (saya di sana tak punya anak. Setelah suami meninggal, dikembalikan pulang, red),” katanya.

Sementara itu, Klian Banjar Insakan, Made Sarjana mengatakan dua warganya itu sudah mendapatkan sejumlah bantuan, salah satunya beras sejahtera. Khusus untuk bedah rumah, sejatinya telah diusulkan setiap tahun.

Hanya saja pembangunannya terkendala lahan. “Warga ini tinggal di lahan milik orang lain. Jadinya belum bisa dapat bedah rumah. Kami berharap hal seperti ini bisa mendapat solusi dari pemerintah,” katanya.

Dua lansia itu juga sudah ditinjau langsung Dinas Sosial Buleleng bersama komunitas peduli sosial. Sementara, bantuan yang diberikan berupa sembako dan sejumlah uang. Sedangkan khusus untuk rumahnya, diupayakan bisa segera mendapat tindak lanjut. (Sosiawan/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *