Penanganan kebakaran hutan di Kintamani beberapa waktu lalu (BP/Ist)

DENPASAR, BALIPOST.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali mencatat sebanyak 255 kejadian bencana dan penanganan kedaruratan selama Oktober 2026. Dari jumlah tersebut, kekeringan dan distribusi air bersih menjadi jenis kejadian yang paling banyak ditangani, yakni 57 kejadian atau 25,3 persen.

Disusul kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebanyak 48 kejadian atau 21,3 persen. Selain kekeringan dan karhutla, kejadian angin kencang dan hujan deras tercatat sebanyak 40 kejadian (17,8 persen).

Penanganan lainnya, termasuk penanganan penyakit akibat paparan (PPE), sebanyak 38 kejadian (16,9 persen). Sementara kebakaran gedung dan permukiman mencapai 33 kejadian (14,7 persen), tanah longsor tujuh kejadian (3,1 persen), serta genangan sementara dua kejadian (0,9 persen).

Dampak dari berbagai kejadian tersebut mengakibatkan satu orang meninggal dunia. Dari sisi kerusakan, estimasi kerugian mencapai Rp4,4 miliar. Kerusakan infrastruktur meliputi 13 unit rumah rusak berat, 11 rumah rusak sedang, dan 11 rumah rusak ringan. Selain itu, terdapat 11 unit sarana ibadah, tiga kios/ruko, tiga pabrik, serta lima bangunan lainnya yang mengalami kerusakan.

Baca juga:  Ada Kasus COVID-19, Puluhan Siswa SMPN 1 Jalani PCR

Dampak juga terjadi pada sektor lahan dengan luas mencapai 57,71 hektare. Sementara luas sawah terdampak tercatat 2,5 hektare.

Di tengah kondisi tersebut, kekeringan masih menjadi persoalan yang berdampak langsung terhadap masyarakat. BPBD Bali mencatat penyaluran air bersih selama Oktober 2026 mencapai 872.500 liter. Bantuan tersebut didistribusikan ke 19 desa/kelurahan dengan jumlah penerima manfaat sebanyak 1.990 kepala keluarga (KK).

Secara khusus, data kejadian bencana bulanan BPBD Bali mencatat lima kejadian bencana yang memenuhi kategori pencatatan sesuai Peraturan BNPB Nomor 7 Tahun 2023 tentang Petunjuk Pelaksanaan Standar Data Kejadian dan Dampak Bencana. Lima kejadian tersebut terdiri atas empat kejadian kekeringan dan satu kebakaran gedung dan permukiman.

Baca juga:  PPKM Diberlakukan, Dunia Usaha akan Beradaptasi atau Tutup Sementara

Kekeringan masing-masing terjadi di Kabupaten Jembrana, Buleleng, Tabanan, dan Karangasem. Dampaknya mencapai 1.990 KK dan 2,5 hektare lahan sawah. Estimasi kerusakan akibat empat kejadian kekeringan tersebut mencapai Rp20,7 juta.

Sementara itu, satu kejadian kebakaran gedung dan permukiman tercatat di Kabupaten Gianyar. Peristiwa tersebut mengakibatkan satu orang meninggal dunia dan satu unit rumah mengalami rusak ringan. Estimasi kerugian akibat kebakaran tersebut mencapai Rp100 juta.

Dengan demikian, total estimasi kerusakan dari lima kejadian bencana yang tercatat dalam kategori tersebut mencapai Rp120,7 juta.

Baca juga:  Dibandingkan Sehari Sebelumnya, Korban Jiwa COVID-19 Bali Bertambah Lebih Banyak

Memasuki peralihan musim, Kalaksa BPBD Bali I Gede Teja, Jumat (6/11), mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi. Masyarakat diminta aktif memantau informasi cuaca dan peringatan dini dari BMKG serta mengikuti imbauan kebencanaan dari BPBD setempat.

Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk tetap menghemat penggunaan air mengingat kondisi kering masih terjadi di sejumlah wilayah. Aktivitas pembakaran yang tidak diawasi juga perlu dihindari untuk mencegah kebakaran hutan, lahan, maupun permukiman.

Teja mengingatkan masyarakat menjaga kebersihan saluran air dan selokan agar tidak tersumbat sampah yang berpotensi memicu genangan maupun banjir ketika hujan turun.

Peningkatan pengetahuan mitigasi bencana juga dinilai penting agar masyarakat mampu mengenali potensi bahaya dan mengurangi risiko bencana di lingkungan masing-masing. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN