Karyawan memperlihatkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (BP/Antara)

JAKARTA, BALIPOST.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis (5/11), bergerak menguat 86 poin atau 0,47 persen menjadi Rp18.082 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.168 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa mengatakan penguatan rupiah didorong pelemahan dolar AS.

“Penguatan ini terutama didorong oleh pelemahan dolar AS di pasar global yang memberikan ruang bagi rupiah untuk bergerak lebih baik,” ucapnya dilansir dari Kantor Berita Antara.

Dolar AS mengalami tekanan setelah hasil pemilihan paruh waktu Amerika Serikat mempengaruhi sentimen investor.

Baca juga:  Dihentikan Sementara, Perdagangan Saham Garuda oleh BEI

Penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS juga membuat aset berdenominasi dolar menjadi relatif kurang menarik.

“Kondisi ini memberikan dukungan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” katanya.

Di sisi lain, lanjut Amru, harga minyak dunia yang melemah turut menjadi sentimen positif karena dapat mengurangi tekanan biaya impor energi Indonesia.

Kendati demikian, sejumlah data ekonomi AS dinyatakan masih menunjukkan kondisi yang cukup kuat.

Laporan ADP mencatat penambahan 86 ribu tenaga kerja swasta pada Oktober, lebih tinggi dari perkiraan pasar sebesar 69 ribu. Aktivitas sektor jasa AS juga masih berada dalam fase ekspansi, dengan ISM Services PMI di level 54,5.

Baca juga:  Lahan Pertanian Rusak, Pemkab Bangli Ajukan Pengadaan Bibit ke Pusat

Perkembangan ini dinilai membuat pasar tetap mencermati arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan.

Melihat perkembangan tersebut, dia menganggap rupiah masih berpeluang melanjutkan penguatan, meskipun pergerakannya diperkirakan tetap fluktuatif. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih baik dari perkiraan dan pelemahan dolar AS menjadi faktor yang mendukung rupiah.

Adapun sentimen positif dari domestik dipengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2026 yang mencapai 5,47 persen secara tahunan. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kuartal sebelumnya sebesar 5,29 persen dan juga melampaui perkiraan pasar.

Baca juga:  Jalan Nasional Denpasar-Gilimanuk di Selemadeg Jebol, Arus Lalin Buka Tutup

“Capaian tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi Indonesia masih cukup kuat, terutama ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan ekspor. Kondisi ini turut memberikan kepercayaan bagi investor terhadap prospek ekonomi Indonesia,” ujar Amru.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini justru bergerak menguat ke level Rp18.094 per dolar AS dari sebelumnya Rp18.140 per dolar AS. (kmb/balipost)

BAGIKAN