Unit bus listrik Trans Sarbagita yang parkir di kantor Dinas Perhubungan Provinsi Bali. Transportasi publik ini rencananya dioperasikan dengan rute GOR Ngurah Rai - Universitas Udayana (Unud) - Garuda Wisnu Kencana (GWK). (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Sebelas unit bus listrik hibah Pemerintah Korea Selatan kepada Pemerintah Provinsi Bali hingga kini belum resmi beroperasi melayani masyarakat. Meski telah diluncurkan pada 22 Oktober 2026, seluruh armada tersebut masih menunggu tahapan uji coba operasional yang direncanakan mulai pekan depan.

Kepala Seksi Operasional Trans Sarbagita, I Made Purwadana, mengatakan bus listrik tersebut sejauh ini baru beberapa kali diperkenalkan kepada publik. Namun, belum ada uji coba resmi yang melibatkan masyarakat sebagai penumpang.

“Baru kami spill-spill dulu. Ini rencana hari baik di minggu depan,” kata Purwadana saat dikonfirmasi, Rabu (4/11).

Dalam tahap awal operasional, sebanyak 10 unit bus listrik direncanakan beroperasi setiap hari dengan gratis. Satu unit bus akan melayani dua ritase atau perjalanan pulang-pergi. Dengan demikian, terdapat 20 ritase setiap hari yang disiapkan untuk melayani penumpang.

Ia menjelaskan, bus listrik yang sebelumnya sempat terlihat melintas di sejumlah ruas jalan bukan sedang menjalani uji coba pelayanan. Aktivitas tersebut merupakan bagian dari kegiatan perekaman dokumentasi dan pemetaan kondisi jalan serta armada yang dilakukan Global Green Growth Institute (GGGI).

Baca juga:  Diprotes Masyarakat, Akhirnya Pengadaan Seragam Dinas DPRD Bali Dibatalkan dan Dialokasikan untuk Ini

“Sempat melintas itu untuk kegiatan shooting dari GGGI,” imbuhnya.

Sebelum dioperasikan, para pengemudi yang berasal dari pihak operator akan terlebih dahulu menjalani pengenalan armada dan uji coba lintasan. Tahapan ini dilakukan untuk memastikan kesiapan pengemudi maupun kendaraan sebelum memberikan pelayanan kepada masyarakat.

“Setelah kesiapan tersebut, baru akan dimulai pelaksanaan layanan untuk umum,” jelas Purwadana.

Dari sisi rute, pengelola melakukan sedikit penyesuaian pada titik awal keberangkatan. Operasional bus listrik juga akan terintegrasi dengan armada Trans Sarbagita berbahan bakar fosil atau Internal Combustion Engine (ICE).

Pengaturan ini dilakukan agar kedua jenis armada dapat melayani penumpang secara bergantian tanpa menerapkan skema operasional khusus.

Rute keberangkatan dimulai dari GOR Ngurah Rai. Selanjutnya, bus menuju ujung Jalan Melati, kemudian berbelok ke kiri atau ke arah timur melintasi Jalan Hayam Wuruk hingga Simpang Plaza Renon. Perjalanan dilanjutkan melalui Jalan Raya Puputan menuju Jalan Sudirman hingga halte Kampus Universitas Udayana (Unud).

Baca juga:  5 Berita Koran Bali Post Terbit Hari Ini, Selasa 13 Januari 2026

Sementara itu, untuk perjalanan arah sebaliknya, bus dari arah GWK yang tiba di Halte Sudirman akan berbelok ke kanan menuju Jalan Raya Puputan. Selanjutnya, armada melintasi Jalan Moh. Yamin, Jalan Hayam Wuruk, dan Jalan Kamboja sebelum kembali ke titik akhir di GOR Ngurah Rai.

Selama masa uji coba, masyarakat dapat memanfaatkan layanan bus listrik tersebut secara gratis. Kendati tidak dikenakan tarif, penumpang tetap diimbau melakukan tap-in menggunakan kartu uang elektronik.

Langkah ini diperlukan untuk mencatat dan memantau jumlah penumpang atau penumpang naik (PNP). Untuk menjaga keteraturan layanan, jadwal keberangkatan bus listrik akan diatur secara berselang-seling dengan bus biru Trans Sarbagita yang menggunakan bahan bakar fosil.

Dengan pola tersebut, kedua jenis armada diharapkan dapat beroperasi secara terintegrasi dalam melayani masyarakat.

Dari sisi infrastruktur, fasilitas pengisian daya atau charging station dipastikan telah siap digunakan di dua lokasi, yakni Kantor Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Bali dan kawasan GOR Ngurah Rai. Ketersediaan fasilitas ini menjadi salah satu penunjang utama sebelum bus listrik dioperasikan secara rutin.

Baca juga:  UPDB “Kuasai” Penyaluran Dana Bergulir

Sebelumnya, Gubernur Bali Wayan Koster telah meluncurkan Bus Listrik Trans Sarbagita beserta charging station hibah melalui Proyek Bali E-Mobility di Lapangan Timur Niti Mandala Renon, Kamis (22/10).

Program Bali E-Mobility merupakan kerja sama Pemerintah Republik Korea melalui Kementerian Iklim, Energi, dan Lingkungan dengan Pemerintah Indonesia melalui Kementerian PPN/Bappenas serta Global Green Growth Institute (GGGI).

Dalam proyek tersebut, Pemprov Bali menerima hibah berupa 11 unit bus listrik dan enam unit infrastruktur pengisian daya. Seluruh bus listrik hibah tersebut juga telah memenuhi standar Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), dengan perakitan bodi bus dilakukan di Indonesia.

Pengoperasian armada ini diharapkan menjadi bagian dari penguatan transportasi publik berbasis energi bersih di Bali. Namun, sebelum layanan resmi dibuka, kesiapan pengemudi, armada, lintasan, serta integrasi jadwal dengan bus Trans Sarbagita konvensional menjadi tahapan yang harus dipastikan terlebih dahulu. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN