
DENPASAR, BALIPOST.com – RSUP Prof.Dr. IGNG Ngoerah (Prof Ngoerah) melakukan pemulasaraan dengan proses kremasi terhadap 22 jenazah telantar. Pemulasaraan dilakukan setelah sekian lama jenazah tanpa identitas dirawat dan disemayamkan di RSUP. Paling lama jenazah tersebut sudah ada sejak 2023.
Kremasi jenazah berlangsung di Yayasan Dharma Kerthi, Desa Kerobokan, 27-28 Oktober 2026. Dirut RSUP Prof Ngoerah, I Gusti Ngurah Ketut Sukadarma saat pelepasan jenazah yang berlangsung di forensik RS setempat mengatakan, dari 22 jenazah tersebut, terdiri dari 11 laki-laki, 5 perempuan, dan 6 belum teridentifikasi. Jenazah yang belum teridentifikasi tersebut merupakan orok yang ditemukan. Total ada 9 orok yang dilakukan pemulasaraan.
“Adapun jenazah yang akan kita lepas, ini ada dua tahap, hari ini dan besok. Jadi, total semuanya ada 22 jenazah,” katanya.
Dari total 22 jenazah tersebut 7 diantaranya merupakan warga negara asing (WNA). Sukadarma mengatakan, jenazah telantar tersebut sudah cukup lama di forensik RSUP Ngoerah bahkan waktu paling lama ada mencapai 1.100 hari atau sejak 2023 lalu.
“Jadi, jenazah-jenazah ini kita sudah lakukan proses perawatan ada sejak dari 2023, ada 2024, 2025. Jadi, yang saya dapatkan informasi ini yang dari 2023 sampai hari ini, ada 22 orang,” terangnya.
Kemudian ada 8 dari 22 jenazah yang dikremasi ini menjadi cadaver yang telah mendapatkan persetujuan dari pihak keluarga. Adapun 8 cadaver tersebut 3 diantaranya merupakan WN Belanda, 2 WN Amerika, dan 3 WNI telantar.
Terhadap jenazah telantar tersebut, pihaknya mengakui telah melakukan proses pengecekan identitas dengan kepolisian termasuk untuk WNA berkoordinasi dengan konsulat negara masing-masing. Namun hingga saat ini ada sisa jenazah yang memang tidak diketahui identitasnya yang dinyatakan sebagai terlantar kemudian dilakukan proses perabuan atau kremasi.
“Ini pun sebenarnya masih ada sisa karena masih belum jelas identitasnya dan belum dilepas oleh pihak kepolisian. Jadi kalau kami sudah mendapatkan kepastian status dari pihak kepolisian, barulah kami melakukan acara pelepasan untuk dilakukan perabuan kremasi,” ujarnya.
Proses kremasi, kata dia, dilakukan secara Hindu. Namun demikian, jika ada jenazah yang diketahui identitasnya akan dilakukan pemulasaraan sesuai dengan kepercayaan masing-masing.
RSUP Prof Ngoerah, kata Sukadarma, telah memiliki kerja sama dengan kelompok warga muslim untuk melakukan penguburan terhadap jenazah yang diketahui beragama Islam. Hal tersebut sudah berjalan hingga menyisakan jenazah yang benar-benar tanpa identitas. (Widiastuti/bisnisbali)










