
DENPASAR, BALIPOST.com – Berpulangnya tokoh kuliner Bali, Ni Ketut Ngasti atau Odah Djenggo atau Men Djenggo (90), tentu menimbulkan duka yang mendalam. Sang mendiang yang merupakan istri dari Buddy Alexie Bloem, pria keturunan Belanda dan Betawi ini, akan diupacarai secara Hindu, sesuai agama yang dianutnya.
Menurut penuturan putri bungsunya, Silvana Saloto Bloem atau Kadek Evi Dwipayani saat diwawancarai di kediamannya di Sesetan, Senin (11/6), ibundanya beragama Hindu meski sang ayah merupakan umat Katolik.
Hal tersebut lantaran ibundanya merupakan istri kedua yang menurut keyakinan Katolik, sang ayah tidak diperkenankan memiliki lebih dari satu istri.
“Oleh sebab itu, ibu saya tetap beragama Hindu dan besok dikremasi secara Hindu,” katanya sembari menambahkan, kremasi dijadwalkan berlangsung pukul 10.00 WITA di Krematorium Santha Yana, Peguyangan.
Lebih lanjut diceritakannya, dari pernikahan pertama, sang ayah memiliki satu anak bernama Henry Alexie Bloem. Henry sendiri kini menjadi tokoh kuliner Indonesia dengan menorehkan banyak prestasi dan catatan kontribusinya dalam dunia kuliner serta chef Indonesia.
Chef Henry Bloem mencatat dua kali pernah memimpin Indonesian Chef Association (ICA).
Sementara itu, Silvana merupakan anak kedua dari sang ayah dan anak pertama dari Men Djenggo. “Jadi kami dua bersaudara, Henry anak dari ibu tua. Sementara saya dari ibu (Men Djenggo),” katanya.
Diceritakannya, sang ibunda berpulang di usia 90 tahun karena sakit. Dari tahun 1970-an sang ibu telah dikenal sebagai peracik dan berjualan nasi bungkus dengan lauk sederhana yang bercita rasa lezat.
Sang ibu menjual nasi bungkus dengan tiga pilihan lauk, mulai dari daging ayam, daging sapi, dan babi. Mulai dari berjualan di seputaran Pelabuhan Benoa dengan menyasar kalangan pekerja, sopir tangki Pertamina, dan pemancing.
Nama Djenggo sendiri, kata Silvana, berawal dari sang ayah yang sangat menggemari tontonan film cowboy atau film laga Amerika terutama yang berjudul Django pada tahun 1966 yang disutradarai Sergio Corbucci dan dibintangi Franco Nero.
Saking seringnya sang ayah melantunkan kata-kata Django tersebut, saudara-saudara dekat dan tetangga dekat rumah ikut kerap memanggil nama Djanggo pada kakaknya Henry saat kecil.
Layaknya kebiasaan umum di Bali, maka Ni Ketut Ngasti pun dipanggil orang-orang dengan panggilan Meme Djenggo atau Men Djenggo yang artinya ibunya Djenggo. Dari semenjak itulah nasi yang dijualnya Ketut Ngasti mulai dikenal sebagai nasi jinggo. (Widiastuti/balipost)









