
DENPASAR, BALIPOST.com – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, berharap Bali menjadi percontohan nasional dalam pengembangan transportasi ramah lingkungan dan percepatan transisi energi bersih. Melalui proyek Bali E-Mobility yang didukung hibah Pemerintah Korea Selatan berupa 11 unit bus listrik dan enam fasilitas pengisian daya, Bali diharapkan mampu menjadi model pembangunan berkelanjutan yang direplikasi secara bertahap di berbagai daerah di Indonesia.
Harapan tersebut disampaikan Rachmat saat peluncuran bus listrik dan fasilitas pengisian daya di Lapangan Timur Monumen Bajra Sandhi, Denpasar, Kamis (22/10) petang. Ia menilai, proyek Bali E-Mobility menjadi bukti konkret kolaborasi lintas negara dan lintas sektor dalam mendukung pembangunan yang lebih hijau.
Rachmat menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Korea Selatan, Global Green Growth Institute (GGGI), Kementerian Perhubungan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Pemerintah Provinsi Bali, serta seluruh pemangku kepentingan yang terlibat dalam pelaksanaan proyek tersebut.
Menurutnya, keberhasilan transisi menuju transportasi ramah lingkungan tidak cukup hanya mengandalkan kerja sama antarpemerintah dan dunia usaha. Keterlibatan masyarakat juga diperlukan agar perubahan menuju penggunaan energi bersih dapat berlangsung secara berkelanjutan.
“Saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada pemerintah Korea, Global Green Growth Institute, Kementerian Perhubungan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Pemerintah Provinsi Bali, serta seluruh pemangku kepentingan yang telah bekerja keras mewujudkan proyek Bali E-Mobility,” ujar Rachmat.
Ia menjelaskan, Bappenas mendorong pengembangan model pembangunan yang sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Dalam konteks tersebut, Bali dinilai memiliki komitmen kuat dalam menjaga lingkungan melalui visi pembangunan yang mengedepankan kebersihan, kelestarian alam, dan keberlanjutan.
Pemilihan Bali sebagai lokasi percontohan juga berkaitan dengan upaya menindaklanjuti arahan Presiden untuk mewujudkan Indonesia yang bersih. Menurut Rachmat, upaya tersebut tidak hanya berfokus pada penanganan sampah rumah tangga dan sampah plastik, tetapi juga harus mencakup pengurangan pencemaran udara dan dampak penggunaan energi berbahan bakar fosil.
“Pak Gubernur yang saya hormati, proyek Bali E-Mobility ini adalah bukti konkret dari kekuatan kolaborasi bersama Global Green Growth Institute. Dan ini proyek percontohan yang dimulai dari Bali, proyek yang berbasis kebijakan dan berbasis bukti, evidence-based policy, yang siap direplikasi secara bertahap di seluruh Nusantara,” katanya.
Rachmat menegaskan, transisi energi merupakan salah satu aspek penting dalam pembangunan berkelanjutan. Peralihan dari bahan bakar fosil menuju energi bersih perlu dilakukan secara bertahap dengan melibatkan berbagai sektor, mulai dari transportasi hingga pembangkit listrik dan industri.
Penggunaan kendaraan listrik menjadi salah satu langkah konkret untuk mengurangi pencemaran dari sektor transportasi. Karena itu, pengembangan bus listrik di Bali diharapkan tidak berhenti pada penyediaan armada awal, tetapi dilanjutkan dengan penambahan kendaraan dan perluasan infrastruktur pengisian daya.
Selain teknologi, Rachmat menilai kearifan lokal Bali dapat menjadi fondasi penting dalam membangun kesadaran lingkungan. Ia mengaku telah lama mengagumi filosofi Tri Hita Karana yang mencakup parahyangan, pawongan, dan palemahan.
Filosofi tersebut mengajarkan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan. Nilai-nilai itu, menurutnya, relevan diterapkan dalam pembangunan, baik pada tingkat keluarga maupun pemerintahan daerah.
Ia juga mengapresiasi visi Gubernur Bali Wayan Koster mengenai pembangunan yang memuliakan alam demi kesejahteraan manusia. Pendekatan tersebut dinilai sejalan dengan upaya mewujudkan Bali yang lebih hijau melalui pengurangan pencemaran dan pemanfaatan energi bersih.
“Dan tadi Bapak sudah berjanji akan membuat Bali Kerti menuju Bali yang lebih hijau, di mana pembangunan dengan memuliakan alam atau alam kerti untuk kesejahteraan manusia atau jana kerti,” ujarnya.
Rachmat berharap Bali tidak hanya menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia, tetapi juga mampu menunjukkan kepada dunia bahwa kearifan lokal dapat berjalan seiring dengan kebijakan pembangunan modern. Komitmen menjaga lingkungan, kata dia, harus diwujudkan melalui program nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Rachmat turut mendorong pengembangan industri kendaraan listrik yang melibatkan sumber daya manusia Indonesia, termasuk generasi muda Bali. Ia berharap masyarakat Bali kelak tidak hanya menjadi pengguna kendaraan listrik, tetapi juga berperan dalam menciptakan dan mengembangkan produk kendaraan sendiri.
“Saya ingin ada merek bus buatan Bali, saya ingin ada mobil buatan Bali, saya ingin ada sepeda motor buatan Bali,” katanya.
Menurutnya, kendaraan yang dikembangkan oleh orang Bali tidak harus seluruhnya diproduksi secara fisik di Pulau Dewata. Pengembangan teknologi dan merek dapat dilakukan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, baik di wilayah Indonesia lainnya maupun di luar negeri, termasuk Korea Selatan.
Dorongan tersebut sekaligus menjadi peluang bagi Bali untuk mengambil bagian dalam pengembangan industri kendaraan listrik nasional. Dengan dukungan teknologi, pendidikan, dan kemitraan industri, Bali diharapkan dapat berkontribusi dalam menciptakan inovasi yang mendukung transisi energi.
Rachmat juga mengaitkan pengembangan kendaraan listrik dengan tantangan global di sektor energi dan pangan. Ia berharap perluasan penggunaan kendaraan listrik dapat mengurangi ketergantungan terhadap bensin dan solar, terutama di tengah kebutuhan transportasi yang terus berkembang.
“Nanti kalau bus listrik tadi sudah menyebar ke seluruh wilayah Bali, mudah-mudahan tidak ada lagi antre bensin, tidak ada lagi antre solar, yang ada adalah antre charging listrik,” ucapnya.
Rachmat menekankan, pengembangan transportasi listrik di Bali diharapkan turut mempercepat upaya penurunan emisi karbon Indonesia. Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan menjadikan proyek Bali E-Mobility sebagai langkah awal untuk memperluas pemanfaatan kendaraan listrik secara bertahap.
“Indonesia berkewajiban menurunkan emisi karbon pada tahun 2060, tapi kalau Bali bisa mulai dari sekarang, kita akan percepat, bukan 2060,” tegasnya.
Ia berharap pengembangan tersebut berlanjut melalui penambahan armada bus listrik, perluasan penggunaan mobil dan sepeda motor listrik, serta pembangunan fasilitas pengisian daya di berbagai wilayah Bali.
“Sejarah baru untuk menurunkan emisi karbon. Mudah-mudahan sejarah ini diuraikan oleh Pak Gubernur, bangkit kita semua dari 8 bus, 80 bus, 800 bus, sepeda motor, mobil listrik, electric charging menyebar di seluruh Bali,” tandasnya.
Peluncuran Bali E-Mobility dihadiri Duta Besar Republik Korea untuk Indonesia H.E. Yoon Soon Gu, Gubernur Bali Wayan Koster, perwakilan Kementerian ESDM dan Kementerian Perhubungan, Kepala Dinas Perhubungan Bali I Made Mudarta, serta sejumlah pejabat daerah dan pemangku kepentingan.
Hadir pula Vice President Dai Motor Company Kim Jong-jin, Pangdam IX/Udayana Mayjen Putra Widiastawa, Wakil Kepala Kepolisian Daerah Bali Brigjen Pol I Made Astawa, Program Manager GGGI Indonesia Jaepyo Jun, serta perwakilan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), lembaga pendidikan, dunia usaha, lembaga adat, dan organisasi masyarakat sipil.
Melalui proyek ini, Bali diharapkan dapat memperkuat langkah menuju transportasi publik yang lebih bersih sekaligus menjadi laboratorium kebijakan bagi pengembangan mobilitas rendah emisi di Indonesia. Keberlanjutan program akan ditentukan oleh kesiapan infrastruktur, pengembangan layanan, dukungan masyarakat, dan konsistensi kolaborasi seluruh pihak terkait. (Ketut Winata/balipost)










