Sidang Kabinet Paripurna dalam rangka dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Istana Negara, Jakarta, Rabu (21/10). (BP/HO-BPMI Setpres)

JAKARTA, BALIPOST.com – Pemerintah menegaskan komitmen untuk menjaga harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi agar tidak mengalami kenaikan.

Di tengah dinamika harga minyak mentah global, pemerintah menyatakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih mampu menyerap tekanan harga minyak hingga akhir tahun.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa pemerintah terus memperhitungkan kenaikan harga minyak mentah global atau Indonesian Crude Price (ICP) yang berpotensi menambah kebutuhan subsidi energi. Meski demikian, pemerintah tetap berkomitmen menjaga harga BBM bersubsidi.

“Yang sedang kita perhitungkan saat ini adalah kenaikan harga ICP global. Karena harga ICP global terus naik, kemungkinan besar akan menambah kebutuhan top-up subsidi,” ujar Bahlil usai Sidang Kabinet Paripurna dalam rangka dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Istana Negara, Jakarta, Rabu (21/10).

Baca juga:  Dibandingkan Sehari Sebelumnya, Kasus COVID-19 Nasional Bertambah Lebih Banyak

Bahlil, dilansir dari Kantor Berita Antara, menegaskan kenaikan harga minyak global tidak mengubah komitmen pemerintah untuk mempertahankan harga BBM bersubsidi.

“Namun, pemerintah berkomitmen untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi. Tidak ada kenaikan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Bahlil mengatakan rata-rata harga ICP saat ini berada di angka USD 92 per barel, sementara asumsi harga minyak mentah dalam APBN berada di kisaran USD 70 per barel.

Baca juga:  Desa Pejeng Kangin Kembangkan Potensi Air Terjun Gana

Pemerintah memperhitungkan harga ICP berpotensi tetap berada di bawah USD 100 per barel apabila kondisi saat ini berlanjut.

“Kita menargetkan, kalau kondisi ini terus berlanjut, harga ICP mungkin masih berada di bawah USD 100 per barel. Jadi, relatif masih terkendali. Untuk BBM bersubsidi, tidak ada kenaikan harga,” lanjut Bahlil.

Senada dengan Bahlil, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa APBN masih mampu menyerap dampak harga minyak yang relatif tinggi.

Baca juga:  Tertekan Kenaikan Harga Minyak Global, IHSG Ditutup Melemah

Airlangga menyebutkan, harga minyak yang dibeli pemerintah saat ini berada di kisaran USD 91–92 per barel dan diperkirakan rata-rata mencapai USD 95 per barel hingga akhir tahun.

“Karena situasi geopolitik tidak akan berubah untuk memasuki tahun depan. Tetapi untuk tahun ini termasuk harga minyak juga relatif kita beli di angka sekitar 91 sekian atau 92 dan sampai akhir diperkirakan rata-rata 95. Dan ini dari segi APBN kita bisa serap,” pungkas Airlangga. (kmb/balipost)

BAGIKAN