Suasana kedatangan wisman di Bandara Ngurah Rai. (BP/istimewa)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Bali belum mencatat pembatalan kunjungan wisatawan akibat langkanya bahan bakar minyak (BBM) yang memicu kemacetan lalu lintas buntut antrean panjang di sejumlah SPBU.

“Sementara ini belum ada cancel, tetapi yang sudah di Bali, mereka mengubah kegiatannya yang tadinya di Bali Selatan, kita bawa ke tempat-tempat yang lebih sedikit crowded-nya,” kata Ketua DPD Asita Bali I Putu Winastra di Jimbaran, Kabupaten Badung, Bali, Jumat (16/10) dilansir dari Kantor Berita Antara.

Meski demikian, kondisi kemacetan mulai mempengaruhi pengaturan perjalanan wisata, sehingga sejumlah jadwal tur dialihkan ke destinasi yang lebih dekat dan tidak terlalu padat.

Winastra mengatakan kemacetan menjadi kendala bagi biro perjalanan wisata, terutama dalam mengatur jadwal kunjungan wisatawan yang menggunakan kendaraan berukuran kecil, seperti mobil van.

Bahkan, kondisi lalu lintas di sekitar stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) sempat menghambat mobilitas anggota Asita menuju Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.

Baca juga:  Rusia akan Buka Konjen di Bali

Menurutnya, perubahan rencana perjalanan dilakukan untuk menyesuaikan kondisi lalu lintas di lapangan.

Sejumlah kunjungan yang semula dijadwalkan menuju destinasi tertentu, seperti Tanah Lot, dialihkan ke lokasi yang lebih dekat agar wisatawan tetap dapat menjalankan kegiatan wisatanya.

Winastra menjelaskan, pihak biro perjalanan juga telah menyampaikan kondisi lalu lintas secara objektif kepada wisatawan.

Sejauh ini, wisatawan dinilai memahami situasi yang terjadi sehingga penyesuaian perjalanan dapat dilakukan tanpa harus membatalkan seluruh agenda wisata.

“Kegiatan sudah terjadwal karena ini kan tidak berpengaruh kepada pesawat ya, cuma ada di Bali saja. Perubahan tur ada yang tadinya ke Tanah Lot karena macet, dia berubah ke tempat yang lebih dekat dan sebagainya. Kita sudah sampaikan secara objektif situasi di lapangan kepada wisatawan dan wisatawan sangat memahaminya,” ujarnya.

Baca juga:  Banyak Hotel di Bali Dijual, Wamenpar Bantah Sektor Pariwisata Sedang Lesu

Meski belum ada pembatalan, Winastra berharap persoalan kemacetan tidak berlangsung terlalu lama.

Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi mempengaruhi kenyamanan wisatawan dan menyulitkan biro perjalanan dalam memenuhi jadwal perjalanan yang telah disusun.

Ia mengungkapkan, pernah terjadi anggota Asita yang terkendala kemacetan di sekitar SPBU sehingga kesulitan mencapai bandara.

Kondisi ini menjadi perhatian karena keterlambatan perjalanan darat dapat mengganggu agenda wisatawan, termasuk ketika mereka harus mengejar jadwal penerbangan.

“Harapan kami adalah ruas jalan yang memang dipakai untuk berjalan ke tempat-tempat yang misalnya bandara, diberikan jalan yang lebih luas sehingga tidak sampai menimbulkan wisatawannya tidak bisa terbang,” katanya.

Winastra juga menilai, apabila situasi tersebut terus berlanjut, dampaknya terhadap kunjungan wisatawan akan sulit dipastikan.

Baca juga:  Motor Boros Bahan Bakar? Ini Langkah Sederhana Irit BBM

Karena itu, ia berharap penanganan kemacetan dapat segera dilakukan agar tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar bagi industri pariwisata Bali.

Ia menyebut, biro perjalanan akan menjelaskan situasi tersebut kepada mitra di luar negeri sebagai kondisi di luar kendali atau force majeure, apabila keadaan memang memenuhi kriteria tersebut.

“Harapannya, hal ini jangan sampai terlalu lama agar kita juga bisa menyampaikan kepada partner di luar negeri bahwa situasi ini adalah force majeure,” katanya.

Menurut Winastra, keberlanjutan pariwisata tidak hanya ditentukan oleh daya tarik destinasi, tetapi juga oleh kelancaran akses dan kenyamanan wisatawan selama berada di Bali.

Karena itu, ia berharap penanganan kemacetan menjadi perhatian bersama agar aktivitas wisata tetap berjalan dan kepercayaan wisatawan terhadap Bali tetap terjaga. (kmb/balipost)

BAGIKAN