Petugas Disperindag Tabanan saat melakukan monitoring ke pasar tradisional. (BP/istimewa)

SINGASANA, BALIPOST.com – Harga sejumlah komoditi sayuran di pasar Kabupaten Tabanan mengalami kenaikan sejak dua hingga tiga minggu terakhir akibat dampak musim kemarau panjang yang memengaruhi produksi dan pasokan. Hasil monitoring Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Tabanan, Senin (12/10), harga cabai merah besar tembus Rp50.000 per kilogram, naik 25 persen dari pekan sebelumnya yang sebesar Rp40.000 per kilogram.

Kepala Disperindag Tabanan, I Gede Sukanada, mengatakan perkembangan harga sayuran tentunya akan terus dipantau untuk mengetahui kondisi pasokan dan perubahan harga di pasar. Kenaikan sejumlah komoditas tersebut menjadi perhatian, terutama di tengah kondisi cuaca yang berpotensi memengaruhi hasil pertanian.

Baca juga:  Sektor Kosmetik Tumbuh 5,59 Persen di Tengah Pandemi

Dimana dari data monitoring pekan kedua Oktober 2026, cabai merah besar mengalami kenaikan Rp10.000 per kilogram. Bawang merah naik dari Rp25.000 menjadi Rp 30.000 per kilogram, sedangkan sawi putih meningkat dari Rp15.000 menjadi Rp17.000 per kilogram. Harga kacang panjang juga naik dari Rp12.000 menjadi Rp14.000 per kilogram.

Sementara itu, harga sayur hijau turun dari Rp17.000 menjadi Rp15.000 per kilogram. Harga jeruk juga mengalami penurunan dari Rp18.000 menjadi Rp15.000 per kilogram. Menurut Sukanada, kenaikan harga sayuran telah dirasakan dalam dua hingga tiga minggu terakhir. Kemarau panjang menjadi salah satu faktor yang menghambat pertumbuhan tanaman, meningkatkan kebutuhan air untuk irigasi, dan memengaruhi hasil panen. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi pasokan ke pasar dan mendorong kenaikan harga.

Baca juga:  Menjelang Galungan, Harga Daging Babi Melonjak

Terkait kenaikan harga bawang merah, Sukanada menjelaskan perbandingan harga dikarenakan dari jenis bawang yang disurvei. Selama ini, pemantauan biasanya dilakukan terhadap bawang Bali, namun, belakangan bawang Bali relatif jarang tersedia di pasaran, sedangkan bawang Bima lebih banyak yang ada dipasaran.

Perbedaan jenis bawang tersebut tentunya membuat perbandingan harga di pasaran. Kenaikan yang tercatat tidak serta-merta menunjukkan perubahan harga pada jenis bawang yang sama karena komoditas yang tersedia untuk pemantauan berbeda.

Baca juga:  Di Bangli, Pasar Tradisional Masih Jual Minyak Goreng Rp 20 Ribu Seliter

Disperindag Tabanan tentunya akan terus melakukan monitoring harga untuk mengetahui perkembangan komoditas yang mengalami kenaikan maupun penurunan. Hasil pemantauan tersebut akan dijadikan bahan evaluasi dalam mengantisipasi gejolak harga dan menjaga ketersediaan kebutuhan pokok masyarakat. “Rutin tiap Minggu kami lakukan monitoring harga di pasaran untuk mengantisipasi adanya gejolak harga,”pungkasnya. (Dewi Puspawati/balipost)

BAGIKAN