Seorang warga melihat videotron yang menayangkan informasi rata-rata harga bahan kebutuhan pokok di Kota Denpasar, Jumat (6/11). Penayangan ini sebagai salah satu langkah Pemkot Denpasar untuk menghindari terjadinya panic buying dalam upaya menekan inflasi.(BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Videotron di Denpasar khususnya di depan Kantor Wali Kota memuat harga-harga kebutuhan pokok yang update setiap harinya. Langkah tersebut menjadi upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar untuk menghindari terjadinya panic buying dalam upaya menekan inflasi.

Kabag Perekonomian Setda Kota Denpasar Putu Agus Mahendra Udayana, saat dikonfirmasi, Jumat (6/11) mengatakan, pemuatan harga kebutuhan pokok tersebut menjadi salah satu upaya menekan inflasi di Kota Denpasar. Dikatakannya dalam upaya menekan inflai ada 4K yang harus dilakukan. Diantaranya keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi dan komunikasi yang efektif. “Nah penayangan harga kebutuhan pokok pada videotron ini jadi upaya komunikasi yang efektif itu. Kita tampilkan hara rata-rata komoditas pokok,” katanya.

Baca juga:  Pemkab Badung Berupaya Kendalikan Inflasi Jelang Kuningan

Data harga kebutuhan pokok yang dimuat, kata Agus Mahendra, merupakan data SP2KP hasil pemantauan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Denpasar. Data tersebut didapat dari beberapa pasar yang menjadi sample. Kemudian disandingkan dengan data dari Pemerintah Provinsi Bali. “Makanya didapat harga rata-rata. Yang kita sajikan itu data harga rata-rata bukan harga pasti,” terangnya.

Ke depannya pemuatan harga komoditas pokok ini juga akan dilakukan pada videotron milik Pemkot Denpasar lainnya. Dia berharap dengan adanya informasi harga kebutuhan pokok ini memberi informasi terbuka bagi masyarakat sehingga masyarakat tidak melakukan panic buying dengan isu-isu harga yang tidak sesuai.

Baca juga:  Jelang Galungan, Harga Pisang Mulai Meroket

“Kita berpaku pada kejadian antrean pembelian BBM lalu. Jadi kita berikan infomasi harga yang transparan dan akurat. Jadi ga perlu pabic buying yang malah menyebabkan lonjakan harga,” imbuhnya. (Widiastuti/balipost)

BAGIKAN