
MANGUPURA, BALIPOST.com – Perubahan desain teknis dermaga wisata water taxi di Pantai Berawa, Badung, yang membengkak hingga 1,3 kilometer memicu kekhawatiran terjadinya abrasi dan perubahan arus laut. Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Kemenko Infra) pun mendesak evaluasi ulang atas dampak lingkungan dan sedimentasi pantai sebelum proyek fisik dimulai.
Struktur pemecah gelombang (breakwater) yang awalnya dirancang sepanjang 540 meter dalam studi awal, kini membengkak menjadi sekitar 1,3 kilometer. Kenaikan panjang struktur pelindung tersebut memicu perhatian serius dari pemerintah pusat.
Asisten Sarana dan Prasarana Pendukung Konektivitas Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Kemenko Infra), Dr. Liz Zeny Merry, menegaskan bahwa perubahan desain ini wajib dikaji lebih dalam untuk mengantisipasi dampak lingkungan pesisir.
“Kita lihat dulu kajiannya. Ini sudah enam bulan menyusun studi kelayakan. Yang pertama dilakukan Udayana sudah selesai, kemudian dilanjutkan desain teknis. Berarti sudah satu tahun baru sampai di sini,” ujar Liz saat menghadiri sosialisasi di Kantor Perbekel Tibubeneng.
Berdasarkan dokumen studi awal tahun 2025, breakwater sisi timur awalnya dirancang sepanjang 170 meter dan sisi barat 370 meter (total 540 meter). Namun, pada desain teknis terbaru, panjang breakwater sisi timur melonjak menjadi 551 meter dan sisi barat menjadi 776 meter, sehingga totalnya mencapai 1.327 meter.
Selain itu, bangunan pelindung di sekitar area sungai turut bertambah dari 142 meter menjadi 219 meter. Jika ditotal secara keseluruhan, panjang bangunan pelindung mencapai 1.546 meter.
Perubahan mendasar ini dilakukan guna menyesuaikan dengan spesifikasi kapal yang akan dilayani.
Ukuran kapal yang lebih besar menuntut kolam maniver dan kedalaman perairan yang lebih luas. Kendati demikian, semakin panjang struktur breakwater, potensi gangguan terhadap ekosistem pantai seperti perubahan pola arus laut dan sedimentasi pasir akan semakin tinggi. “Persoalan sedimentasi sudah kita capture, ada perlu dihitung,” tegas Liz.
Kajian komprehensif ini dinilai krusial agar keberadaan dermaga tidak memicu abrasi atau kerusakan garis pantai di sekitarnya. Hasil kajian teknis dan lingkungan tersebut nantinya akan diserahkan ke dinas terkait sebagai bahan pembahasan lintas instansi.
Proyek fisik dermaga water taxi Berawa dipastikan belum akan dimulai dalam waktu dekat karena masih mengantre sejumlah proses administratif, pembagian peran antarlembaga, hingga kepastian skema pembiayaan. (Parwata/balipost)










