
SINGARAJA, BALIPOST.com – Kasus kebakaran lahan di Kabupaten Buleleng meningkat seiring musim kemarau panjang yang disertai angin kencang. Dalam sehari, kejadian kebakaran bahkan bisa mencapai tujuh kali. Kondisi ini membuat kebutuhan operasional armada pemadam kebakaran, terutama bahan bakar minyak (BBM), ikut meningkat.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Kabupaten Buleleng, Geds Arya Suardana, saat dihubungi Senin (28/9) mengatakan, kondisi kemarau panjang dan angin kencang menjadi salah satu faktor yang menyebabkan penanganan kebakaran semakin intensif.
“Sekarang ini satu hari bisa tujuh kali,” ujarnya.
Menurut Suardana, tujuh kejadian tersebut tidak berarti satu armada hanya melakukan satu kali perjalanan. Dalam satu kejadian, kendaraan pemadam bisa harus bolak-balik dua hingga tiga kali. Kondisi ini otomatis meningkatkan kebutuhan BBM dan air dalam operasional pemadaman.
Dalam kondisi tertentu, satu armada bahkan bisa menghabiskan lima hingga tujuh tangki air dalam sehari. “Kalau normal cukup. Saat ini satu hari bisa tujuh kali,” katanya.
Meningkatnya frekuensi kebakaran juga berdampak terhadap kebutuhan anggaran operasional. Untuk mendukung penanganan hingga akhir tahun, pemerintah menyiapkan tambahan anggaran sebesar Rp 50 juta melalui APBD Perubahan. Namun, anggaran tersebut tidak khusus untuk BBM karena juga mencakup kebutuhan pemeliharaan kendaraan.
Sementara itu, anggaran pada induk sebelumnya mencapai sekitar Rp 300 juta. Menurut Suardana, anggaran tersebut juga mencakup pemeliharaan kendaraan, bukan hanya BBM. Biaya pemeliharaan satu kendaraan disebut mencapai sekitar Rp 37 juta.
Dengan meningkatnya kejadian kebakaran, Suardana mengatakan penggunaan anggaran harus dilakukan secara efisien. Penanganan terhadap kejadian yang bersifat darurat tetap menjadi prioritas, sedangkan kegiatan penyiraman yang tidak bersifat mendesak akan dikurangi.
“Kalau terkait kedaruratan pasti kita berangkat. Tapi kalau umpamanya penyiraman, itu kita kurangi sedikit-sedikit,” ujarnya.
Di tengah meningkatnya kasus kebakaran, masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan. Berdasarkan hasil investigasi petugas, pembakaran sampah secara sembarangan menjadi salah satu penyebab dominan kebakaran lahan.
Suardana menyebut sekitar 90 persen kejadian kebakaran yang ditangani berkaitan dengan aktivitas pembakaran sampah. Kondisi kemarau panjang dan angin kencang membuat api lebih mudah menyebar sehingga berpotensi meluas ke lahan di sekitarnya.
Karena itu, masyarakat diimbau tidak membakar sampah secara sembarangan, terutama pada kondisi cuaca kering dan berangin. Pencegahan dinilai penting untuk menekan jumlah kejadian kebakaran sekaligus mengurangi beban operasional petugas pemadam.
“Kami imbau, tolong jangan bakar sampah secara sembarangan,” tegasnya. (Nyoman Yudha/balipost)









