
SINGARAJA, BALIPOST.com – Sejak penugasan tambahan melalui Perda Nomor 5 Tahun 2022 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah, layanan di Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Buleleng kian meluas. Tidak hanya menangani kebakaran, permintaan paling banyak datang dari warga yang meminta bantuan pemotongan cincin yang tak lagi bisa dilepas dari jari.
Kepala Seksi Informasi dan Pengolahan Data Damkar Buleleng, Ketut Gede Mahendra, Minggu (30/11) mengatakan, pemohon layanan ini datang dari berbagai kelompok usia. Mulai anak-anak, pelajar, mahasiswa, hingga orang dewasa. Bahkan, beberapa kasus juga menimpa bayi dan balita yang jarinya membengkak seiring pertumbuhan.
“Permohonannya cukup ramai. Dalam sebulan rata-rata lima sampai enam orang datang untuk meminta bantuan pemotongan cincin. Mayoritas orang dewasa, tetapi ada juga pelajar dan bayi,” jelasnya.
Tak hanya warga lokal, layanan ini juga diminati masyarakat luar daerah, seperti Pupuan, Tabanan. Layanan dapat diakses di seluruh pos penyelamatan, bahkan tim bersedia datang ke lapangan untuk kasus tertentu. Warga cukup melampirkan KTP dan surat pernyataan sebelum tindakan dilakukan.
Mahendra juga mengungkap salah satu kasus unik yang pernah ditangani, yakni pemotongan cincin pada jenazah di Kelurahan Paket Agung. Keluarga meminta cincin dilepas karena adanya kepercayaan bahwa jenazah tidak diperkenankan mengenakan perhiasan. “Anggota kami memotong cincin saat jenazah sudah berada di dalam freezer,” ujarnya.
Dalam satu kali penanganan, Damkar menurunkan empat hingga lima personel. Satu orang fokus memotong cincin, satu petugas memegang posisi tangan, satu melakukan dokumentasi, sementara lainnya membantu menyiram air agar proses tetap aman. Penanganan bayi memerlukan tambahan personel karena prioritas utama adalah memastikan korban tetap tenang.
Meski permintaan meningkat, fasilitas Damkar dinilai masih terbatas. Hingga kini petugas masih mengandalkan alat sederhana berupa gendra mini, yang memiliki risiko cukup tinggi saat digunakan.
Sejumlah personel Damkar mempelajari teknik ini secara otodidak maupun melalui pelatihan Tim Reaksi Cepat (TRC). Mahendra menambahkan, daerah besar seperti Jakarta dan Bandung telah menggunakan alat modern khusus pemotongan cincin. Sementara Damkar Buleleng hingga kini belum memiliki akses pada peralatan serupa.
“Kami sadar peralatan masih minim. Gendra mini risikonya besar, tetapi Astungkara sejauh ini tidak ada petugas maupun warga yang terluka karena tim bekerja sangat hati-hati,” ujar Mahendra. (Yudha/Balipost)









