FGD Densus 88 Antiteror Polri Satgaswil Bali bersama kepala sekolah dan guru bimbingan konseling tingkat SMP se-Kabupaten Tabanan, Kamis (17/9). (BP/istimewa)

SINGASANA, BALIPOST.com – Dalam rangka mencegah penyebaran paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET) di wilayah Bali, Densus 88 Antiteror Polri Satgaswil Bali melaksanakan kegiatan focus group discussion (FGD) bersama kepala sekolah dan guru bimbingan konseling (BK) tingkat SMP se-Kabupaten Tabanan, Kamis (17/9). Kegiatan ini sebagai bagian penguatan peran sekolah dalam mendeteksi dini perubahan perilaku siswa dan mencegah paparan paham kekerasan melalui ruang digital.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tabanan, I Gusti Ngurah Darma Utama mengatakan, peran satuan pendidikan sangat penting sebagai pendampingan siswa serta benteng awal pencegahan. Hal ini mengingat pelajar berada dalam fase pencarian jati diri yang rentan dipengaruhi lingkungan pergaulan, konten digital, dan interaksi di media sosial.

Baca juga:  Belajar Dari Internet, Prabawa Ciptakan Karya Kreatif 

Menurutnya, kolaborasi antara Densus 88, sekolah, dan pemangku kepentingan pendidikan sangat diperlukan untuk membangun sistem pencegahan yang tidak hanya mengandalkan pengawasan, namun juga komunikasi dan pendampingan. Jika ditemukan indikasi kerentanan, langkah penanganan harus dilakukan secara terukur dengan mengutamakan keselamatan siswa. Guru BK dan wali kelas tentunya perlu mendokumentasikan kejadian secara objektif dan rahasia sesuai ketentuan, serta berkoordinasi dengan kepala sekolah, orang tua, dan pihak terkait.

Baca juga:  Teroris Galang Dana, Masyarakat Diminta Lebih Waspada Salurkan Sumbangan

Kepala sekolah bersama tim pencegahan dan penanganan kekerasan di satuan pendidikan (PPKSP) juga diharapkan memperkuat kebijakan sekolah yang menolak intoleransi dan segala bentuk kekerasan.

Sementara itu, pihak Densus 88 juga mengingatkan potensi pemanfaatan ruang digital dan permainan daring sebagai sarana pendekatan serta penyebaran paham kekerasan kepada anak. Dalam pemaparannya, Kasatgaswil Bali menjelaskan bahwa pelajar berada pada fase pencarian jati diri yang dapat dimanfaatkan kelompok radikal melalui pendekatan di dunia maya.

Baca juga:  Enam SMA/SMK Negeri di Bali Masih Dipimpin Pelaksana Tugas, Disdikpora Jaring Kepsek Definitif

Karena itu, peran sekolah dan keluarga diperlukan untuk mengenali perubahan perilaku anak, membangun komunikasi terbuka, serta melakukan pendampingan sejak dini. Materi yang disampaikan juga mengangkat potensi paparan radikalisme melalui permainan daring, termasuk Roblox. Anak yang awalnya bermain untuk mencari hiburan dan membangun pertemanan dapat berinteraksi dengan komunitas online yang berpotensi mengarah pada perekrutan dan penyebaran propaganda ekstremisme. (Puspawati/balipost)

 

BAGIKAN