Kapolda Bali, Irjen Pol. Daniel Adityajaya saat menghadiri sekaligus membuka seminar penguatan ketahanan ideologi dan pencegahan paham radikalisme. (BP/istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Perkembangan teknologi informasi dan media sosial membuat penyebaran paham intoleransi, eksklusivisme, dan radikalisme semakin cepat, adaptif, serta dapat menyasar siapa saja. Oleh karena itu, personel Polri harus memiliki benteng ideologi dan karakter yang kuat.

Sesuai rilis yang disampaikan Bidhumas Polda Bali, hal tersebut disampaikan Kapolda Bali, Irjen Pol. Daniel Adityajaya saat membuka seminar penguatan ketahanan ideologi dan pencegahan paham radikal bagi pegawai negeri di Gedung Presisi Polda Bali, Kamis (20/8).

Baca juga:  Bangun Profesionalisme Pecalang, Ranperda Desa Adat Atur Pelatihan dan Pendidikannya

Seminar tersebut digelar secara hybrid dan dihadiri personel Polda Bali, pejabat BNPT, Densus 88 Antiteror Polri, Universitas Udayana, FKUB Provinsi Bali, dan mantan anggota Polri yang pernah terpapar radikalisme.

Dalam seminar tersebut, Irjen Daniel menegaskan, ancaman radikalisme saat ini tidak selalu muncul secara terbuka. Perkembangan teknologi informasi dan media sosial membuat penyebaran paham intoleransi, eksklusivisme dan radikalisme semakin cepat, adaptif, serta dapat menyasar siapa saja.

“Paham radikal dapat tumbuh perlahan, dimulai dari cara pandang yang tertutup terhadap perbedaan, merasa paling benar, menolak kelompok lain, hingga berkembang menjadi ekstremisme dan pembenaran terhadap kekerasan,” tegasnya.

Baca juga:  Penjual Gas Oplosan Diringkus Polisi

Oleh karena itu, kondisi tersebut harus menjadi perhatian serius seluruh personel Polri. Kapolda menegaskan, sebelum menjaga masyarakat dari berbagai ancaman, harus dipastikan personel Polri memiliki benteng ideologi dan karakter yang kuat. “Jangan sampai anggota Polri justru mudah terpengaruh oleh paham yang bertentangan dengan Pancasila dan NKRI,” ujarnya.

Mantan Kapolda Kaltara ini menekankan pentingnya sikap terbuka dan toleran dalam kehidupan bermasyarakat. Keberagaman, menurutnya bukanlah sumber perpecahan, melainkan kekuatan dalam menjaga keamanan dan keharmonisan Bali.

Baca juga:  Diduga Ada Kelompok Radikal Menyusup di Badung

Kegiatan tersebut diharapkan menjadi ruang untuk memperkuat benteng ideologi sekaligus meningkatkan kemampuan kita mengenali dan mencegah potensi ekstremisme dan radikalisme. Kapolda Daniel menegaskan komitmennya membangun personel yang profesional, berintegritas, tangguh secara ideologi serta menjadi garda terdepan dalam menjaga Pancasila, persatuan dan keharmonisan masyarakat Bali. (Kerta Negara/balipost)

BAGIKAN